Derta membuat aplikasi tersebut didasari rasa keprihatinan karena para penyandang disabilitas yang kurang mendapat perhatikan. Padahal antusiasme mereka untuk berpartisipasi dalam politik (pilkada) sangatlah besar.
"Sosialisasi kepada mereka minim sekali. Apalagi bisa mengenal lebih jauh profil calon yang akan dipilih," kata Derta kepada wartawan di Kantor Pusat UGM, Selasa, (17/11/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Terdapat arahan memilih menu dengan suara. Dan saat membukanya masih dibantu orang lain tapi bila sampai pada profil calon hanya cukup menekan tombol angka 1 hingga 8," katanya.
Menurutnya informasi seputar pilkada dan profil calon yang tersedia pada aplikasi ini baru pada profil kandidat di Provinsi DIY dan Pemerintah Kota Surabaya.
Alasan Derta belum semua kandidat di daerah lain yang dipasang, karena aplikasi ini baru dibuat dua minggu yang lalu dalam rangka mengikuti perlombaan Pilkada Apps Challenge Code for Vote 4.0 yang diadakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Perludem pada 8 November di Jakarta.
"Aplikasi ini berhasil menjadi juara satu untuk kategori aplikasi bagi disabilitas," katanya.
Dia akan terus mengembangkan aplikasi tersebut dengan menambah konten yang berisi profil kandidat. Sebelum pilkada serentak pada tanggal 9 Desember 2015 nanti akan membuat profil pilkada dari Jawa Barat dan Jawa Timur," katanya.
Derta menambahkan ide untuk membuat aplikasi bagi tunanetra muncul setelah mengetahui banyak pemilih yang sudah lanjut usia di daerah pedesaan dan terpencil yang datang ke TPS hanya diarahkan oleh panitia ke bilik suara tanpa mengetahui dengan jelas profil calon yang akan dipilih.
"Yang tua saja seperti itu apalagi yang tunanetra. Belum lagi para penyandang disabilitas yang tidak aktif menggali informasi," pungkas Derta. (bgs/hri)











































