Ketut Raka bekerja di rumah Margriet melalui sebuah perusahaan penyalur. Dia bekerja sejak 4 sampai 10 Juni 2015, sekitar 2 minggu setelah Engline dilaporkan hilang.
Saat bertugas, dia berbincang dengan salah satu anggota polisi, Budi Dukun, yang saat itu juga ditugaskan untuk berjaga di depan rumah Margriet. Tanggal 5 Juni 2015 Budi Dukun bercerita kepada Ketut Raka bahwa dalam penerawangannya, Engeline sudah meninggal dan arwahnya berdiri di sebelah tenggara atau di atas gundukan tanah dekat kandang ayam belakang rumah Margriet. Budi juga mengaku bisa memanggil arwah Engeline.
Ketut Raka juga mengatakan, bahwa dia, Budi Dukun, dan bersama dengan beberapa anggota polisi lainnya mencium bau busuk saat mengecek ke lokasi. Namun saat itu, seorang pimpinan polisi memintanya untuk keluar dari kediaman Margriet.
"Setelah bilang kalau Engeline sudah meninggal, Budi Dukun 3 kali cium bau busuk, saya juga sekali. Kita cek tapi sama komandannya diminta untuk keluar dari lokasi. Tapi saya lupa namanya siapa, wajahnya juga lupa," ungkap Ketut Raka pada majelis hakim di ruang Cakra PN Denpasar, Jl PB Sudirman, Selasa (16/11/2015).
Ketika mendengar keterangan saksi tersebut, ketua majelis hakim Edward Hakim Sinaga meminta supaya nama Budi Dukun dicatat dan dijadwalkan menjadi saksi dalam agenda sidang berikutnya.
"Budi Dukun saya minta dicatat namanya dan dihadirkan jadi saksi dalam sidang berikutnya. Ini kita usut tentang keterangan saksi tersebut," ujar Edward Hakim Sinaga pada JPU.
Selain soal Budi Dukun, Ketut Raka juga menyatakan kecurigaannnya pada gundukan tanah yang ada di belakang rumah Margriet. Menurutnya selama seminggu bekerja di kediaman Margriet tidak pernah terjadi hujan. Namun ia melihat sebuah lubang di areal kandang ayam yang ketika itu selalu basah seperti sengaja disiram air.
Selain basah, permukaannya selalu ditutupi keranjang plastik berwarna merah, tumpukan bambu dan kotoran ayam. Kejanggalan ini sempat membuatnya curiga dan kecurigaan tersebut terbukti. Ketika ia mendampingi polisi untuk menyisir lokasi kandang pada 10 Juni 2015, sekitar pukul 11.30 Wita di gundukan tanah itu ditemukan jenazah Engeline.
"Saya curiga, kok ada tanah yang selalu basah seperti sengaja disiram air. Tidak ada hujan saat itu. Tanah yang basah itu ditutup keranjang merah dan bambu, juga kotoran ayam. Ternyata kecurigaan itu terbukti, tanggal 10 Juni di lokasi itulah ditemukan jenazah Engeline," paparnya. (slm/nrl)











































