Oesman yang biasa disapa Oeso itu bertemu dengan perwakilan dari Dewan Negara atau Senat Malaysia. Presiden of Dewan Negara yaitu YB Senator Tan Sri Abu Zahar Ujang, langsung menyambut rombongan.
Mereka kemudian sempat berdiskusi di sebuah ruangan. Dari rombongan tim MPR yang ikut mendampingi Oeso yaitu Mahyudin (Wakil Ketua MPR), Abdul Kadir Karding (PKB), Abdul Malik Haramain (PKB), M Idris Laena (Golkar), Hermanto (PKS), Zainut Tauhid (PPP) dan Djoni Rolindrawan (Hanura) serta dari kelompok DPD yaitu Djasarmen Purba, Delis Jukarson Hehi dan Eni Sumarni.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Dhani/detikcom |
Di awal obrolan, Zahar sempat memperkenalkan para anggotanya. Dia juga mengatakan bahwa perwakilan di parlemen banyak dari berbagai bidang.
"Ada wakil orang asing pula di sini, ini contohnya banyak wakil di sini. Kerja sama perlu kita perkuat kembali. Permasalahan dunia ini perlu sama-sama kita hayati," kata Zahar membuka obrolan di Parlemen Malaysia, Selasa (17/11/2015).
Seperti biasa, pembicaraan dari para senator dari Malaysia itu menyebut mengenai Indonesia dan Malaysia yang serumpun. Oeso pun juga menyebut mempunyai hubungan dekat dengan Malaysia.
"Hubungan saya dengan Malaysia, luar biasa dekatnya, pembantu saya 3 itu orang Malaysia, jadi 2 orang tukang kebun lalu 1 tukang masak. Begitu sayangnya sudah seperti keluarga," kata Oeso.
Kemudian Zahar sempat bicara soal masalah pengungsi dan terorisme serta yang tak kalah penting yaitu soal perdagangan manusia. Zahar ingin agar masalah ini bisa dibicarakan bersama.
"Pelarian, refugees, teroris, negara-negara Islam, saya berkata bahwa agar kita sama-sama menghayati ajaran. Human trafficking, I think it's a global syndicate. Yang dibunuh, terbunuh, kita perlu bersama untuk mengatasi hal itu," ucap Zahar.
"Memang untuk menyelesaikan masalah-masalah yang belum terselesaikan perlu ada komitmen politik, tahun depan membangun 5S, strategy structure skill system speed and target. Jadi memang negara kita ini sama, mungkin lebih baik dari Malaysia kita perlu belajar lebih banyak dari Malaysia walaupun saudara tua, enggak masalah. Begitu pun sebaliknya, enggak masalah," timpal Oeso.
Kemudian Mahyudin sempat menanyakan satu hal soal sikap Malaysia tentang klaim China pada Laut China Selatan. Zahar menyebut belum ada posisi pasti dari Malaysia tetapi secara pribadi dia ingin ada perundingan terbuka dengan negara-negara yang berbatasan dengan laut tersebut.
"Saya tidak ada dapat satu pendirian yang tegas yang sampai pada saya. Pribadi saya, itu patut dirundingkan. Saya selalu berpendapat, boleh diselesaikan dengan perundingan, kalau tidak ada bisa menimbulkan prasangka, kerisauan. Perlu perundingan, bagaimana kedudukan dia, perlu adanya perundingan antar pimpinan-pimpinan," kata Zahar.
Foto: Dhani/detikcom |












































Foto: Dhani/detikcom
Foto: Dhani/detikcom