"Kita sudah buka semua Banggar. Tapi saya cek, ternyata pas kemarin mereka saking sering bahas KUA-PPAS enggak mau masukin ke e-budgeting. Jadi bahas dulu baru masuk. Padahal saya mintanya, dalam proses pembahasan pun semua di-e-budgeting jadi kelihatan kalau ada perubahan berapa kali. (Sekarang) hilang jejak itu," ujar Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (17/11/2015).
Ahok pun meminta Kepala Bappeda DKI Tuty Kusumawati untuk senantiasa mencatat detil setiap proses pembahasan di rapat Banggar dalam sistem e-Budgeting. Hal ini berguna untuk dijadikan pelajaran bagi pemerintahan yang akan datang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi 'Oh kenapa kita prioritas ini, kenapa dalam tengah jalan dicoret, kenapa ditambah dikurang' gitu. Nah kalau dulu kan enggak, tiba-tiba nongol saja. Dia cetak buku sih memang, setiap proses kita langsung cetak. Tapi kalau cetak, ditumpuk-tumpuk hilang. Tapi kalau ditaruh dalam sistem Smart City atau di i-Cloud gitu kan selamanya, sampai kiamat juga kalau enggak terjadi sesuatu di dunia ini orang masih punya. Kalau buku (mudah) hilang," lanjut Ahok.
Dia pun ingin ke depannya, pihak DPRD DKI membuka setiap proses Banggar. "Kita dari dulu sudah terbuka sebetulnya. Kadang-kadang mereka enggak mau buka," pungkasnya.
(aws/dra)











































