Pemerintah Prancis bukan tak tahu akan adanya potensi serangan teroris pasca penembakan di kantor Chaelie Hebdo. Sejak insiden ini hingga April 2015 tercatat ada lima aksi serangan teror berhasil digagalkan pemerintah Prancis.
Namun pada Jumat 26 Juni 2015 terjadi aksi penyerangan secara brutal di kawasan industri Prancis tepatnya di kota Saint-Quentin-Fallavier. Hal ini membuat Perdana Menteri Prancis Manuel Valls memberikan peringatan kepada warganya untuk lebih mewaspadai terhadap kemungkinan terjadinya aksi terorisme.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pertanyaannya bukan apakah akan ada serangan lain, melainkan kapan," imbuhnya.
Peringatan Valls kepada warga Prancis bukan tanpa asalan. Bulan lalu pemerintah Prancis merilis bahwa ada 500 warganya yang ini bergabung dan berjuang dengan kelompok jihad di Suriah dan Irak. Mereka bisa saja kembali ke Prancis dan melakukan aksi teror.
Kekhawatiran Valls benar-benar terbukti pada Jumat (13/11/2015) lalu. Secara hampir bersamaan terjadi serangan bom dan rentetan tembakan di enam tempat berbeda di Paris. Sedikitnya 129 orang meninggal dunia dalam insiden tersebut. Lihat juga infografis:Β Teror Berdarah di Paris.
Dilansir BBC, Minggu (15/11/2015), Presiden Francois Hollande menyebut selama musim panas ini intelijen mendeteksi adanya rencana serangan teroris setiap minggunya. Dia menuding kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) berada di balik serangan di Paris pada Jumat malam itu.
"Ini sebuah aksi perang... yang dilakukan oleh pasukan teroris, Islamic State, melawan Prancis, melawan... apa yang kita sebut, sebuah negara bebas," kata Hollande seperti dilansir AFP, Sabtu (14/11/2015).
(erd/nrl)











































