DetikNews
Sabtu 14 November 2015, 09:24 WIB

Karimunjawa Dikembangkan Eksklusif, Turis Berbikini Dilarang Mondar-mandir

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Karimunjawa Dikembangkan Eksklusif, Turis Berbikini Dilarang Mondar-mandir Foto: Angling Adhitya P/detikcom
Jepara - Keindahan wisata laut di Karimunjawa, Jawa Tengah, tidak kalah dengan Bali yang sudah tersohor di dunia. Perkembangan pariwisata pun dilakukan, namun ada batasan yang akan diberikan sehingga Karimunjawa lebih eksklusif dari Bali.

Masyarakat Karimunjawa yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan cukup senang dengan banyaknya wisatawan yang datang ke kepulauan yang ada di Laut Jawa itu. Namun mereka  tidak ingin pengembangan pariwisata di sana menghilangkan memudarkan kearifan lokal dan justru memberikan dampak buruk kehidupan di sana.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kabupaten Jepara mengupayakan pengembangan wisata di Karimunjawa dengan mempertimbangkan keinginan masyarakat di sana. Mereka tidak ingin Karimunjawa menjadi seperti Bali, yaitu banyak wisatawan berbikini lalu-lalang di jalan hingga berdampak banyaknya pergaulan bebas.

"Di sini tidak ada yang ingin orang berbikini di mana-mana. Terus bagaimana kalau ada yang mau mandi sinar matahari telanjang? Boleh, tapi ditutupin. Ya dengan candaan ini diharapkan nanti Karimunjawa bisa 'dijual' lebih ekslusif," kata Gubernur Ganjar saat menemui warga di kantor kecamatan Karimunjawa, Jumat (13/11/2015).

Ganjar mengatakan saat ini pengembangan pariwisata sudah dilakukan termasuk perluasan bandara dan pelabuhan. Aliran listrik yang selama ini menjadi masalah utama pun dijanjikan bisa teratasi pertengahan tahun 2016. Meski demikian kearifan lokal perlu dijaga termasuk menghormati warga yang mayoritas Muslim di Karimunjawa.

"Warga menghendaki jangan sampai akhlak moral orang di sini buruk, misal  jalan berbikini, alkohol dimana-mana, free sex. Ya tantangannya di sini, menjaga kearifan lokal," tandas Ganjar.Oleh sebab itu pengembangan pariwisata di Karimunjawa akan "menjual" secara ekslusif dengan menawarkan wisata yang indah namun tetap mengikuti adat dan budaya yang berlaku di Karimunjawa. Diharapkan dengan itu justru menjadi daya tarik dan wisatawan mau membayar lebih untuk berwisata ke Karimunjawa.


"Jadi tidak sama seperti Bali. Kalau Bali sudah masif, kita harap Karimunjawa lebih selektif, jadi bisa jual Karimunjawa dari perspektif yang benar. Tidak perlu masif hotel dimana-mana," tegas  Ganjar.

Bupati Jepara, Ahmad Marzuki juga berharap kebebasan yang mengarah ke vulgar tidak terjadi dalam pengembangan pariwisata di Karimunjawa. Menurutnya pengembangan tidak harus menjadi seperti Bali karena Karimunjawa memiliki kultur yang berbeda.

"Jangan sampai kebebasan berlebih terjadi di Karimunjawa, karena kultur kita memang beda. Bali menghormati kondisi yang ada, tapi kita juga punya kultur sendiri dan agama," pungkasnya.

Sementara itu Camat Karimunjawa, Taksin mengatakan jumlah wisatawan di Karimunjawa semakin meningkat, namun memang cuaca masih menjadi kendala untuk wisatawan berkunjung ke sana. Wisatawan mayoritas datang menggunakan perahu, sedangkan gelombang laut terkadang tidak bisa dilalui.

"Jumlah wisatawan dalam  4 tahun terakhir meningkat  signifikan. Cuaca bagus, tiap minggu 2.000 orang dari Jumat sampai Senin." kata Taksin.


(alg/try)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed