"Aduh, kemarin Charlie sekarang ini," tutur Adit kepada detikcom, Sabtu (14/11/2015).
Filolog Perpustakaan Nasional ini bercerita, saat serangan kantor Charlie Hebdo pada 7 Januari 2015 lalu, dia sedang berada di kelas untuk mengikuti perkuliahan. Dosen yang mengajar langsung memberi pengumuman tentang peristiwa tersebut. Mereka langsung menyelamatkan diri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Teror lebih dahsyat kini dialami Adit berselang hampir 10 bulan kemudian. Menurutnya, peristiwa ini lebih mencekam, sebab terjadi di beberapa lokasi, dan jumlah peneror lebih banyak.
"Itu yang di lokasi nonton konser metal kabarnya meninggal 100 orang. Tanggalnya juga pas Friday the 13th," terangnya.
"Terasa banget paniknya. Terorisnya lebih banyak dan tempatnya nyebar," sambungnya.
Dua penyerang yang disebut sebagai militan Islam menyerbu kantor Charlie Hebdo di Paris, 7 Januari 2015 lalu. Sebanyak 12 jurnalis, termasuk beberapa kartunis, tewas.
Serangan konon diklaim oleh Al Qaeda di Yaman, yang ingin menghukum majalah itu atas gambar-gambar yang melecehkan simbol-simbol agama Islam.
Buntut dari tragedi itu telah menempatkan publikasi kontroversial tersebut ke dalam debat global mengenai hak kebebasan berekspresi. Jutaan orang di seluruh dunia menyambut slogan 'Je suis Charlie'. (mad/hri)










































