Namun, menipisnya asap ini tidak dibarengi dengan aktivitas kegempaan yang justru terus meningkat. Berdasarkan pengamatan petugas pusat vulkanologi dan mitigasi bencana geologi (PVMBG) pos pantau Gunung Bromo, aktivitas kegempaan Gunung Bromo mengalami peningkatan.
Jika sehari sebelumnya, amplitudo tremor hanya dikisaran tiga milimeter, kini melonjak hingga tujuh milimeter. Bahkan, dalam 12 jam terakhir, sudah terjadi dua kali gempa vulkanik dalam di dasar Gunung Bromo.
Ketinggian asap relatif stabil dengan ketinggian 100 hingga 150 meter, menuju arah barat daya. Sementara aroma belerang masih terasa pekat, terutama di bibir kawah, disertai semburan abu vulkanik tipis.
Hanya saja, peningkatan aktivitas ini, pengunjung seolah tidak menghiraukan beberapa papan imbauan hingga larangan untuk naik ke kawah Bromo. Bahkan, di sekitar bibir kawah, masih banyak pengunjung yang nekat melihat kawah dari dekat.
Vincent, salah satu pengunjung dari Belanda ini mengaku tidak takut meski Bromo meletus sewaktu-waktu.
"Saya beruntung hari ini cuaca cerah, dan bisa melihat pemandangan yang cukup bagus. Saya tidak takut kenaikan aktivitas dan saya tetap waspada," ujar Vincent dengan nada ceria.
Saat ini status Gunung Bromo dalam level waspada. Pengunjung dan warga diimbau untuk tidak mendekat ke kawah dengan radius satu kilo meter.
Hingga kini, pihak Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) belum ada rencana untuk menutup lokasi wisata ini. (hri/hri)











































