Nasib hidup dan mati mafia penyelundup sabu 800 kg, Wong Chi Ping, akan ditentukan siang ini di tangan Pengadilan Negeri Jakarta Barat (PN Jakbar). Wong sebelumnya dituntut hukuman mati oleh jaksa penuntut umum. Sebelum merujuk ke sidang putusan, ada baiknya menyimak kembali perjalanan Wong yang coba selundupkan sabu 800 kg ke Indonesia lewat jalur laut.
Dalam berkas dakwaan yang diperoleh detikcom, Kamis (13/11/2015), upaya penyelundupan itu pertama kali direncanakan pada tahun 2014. Berikut kronologinya:
April 2014
Wong disuruh seseorang dari Hongkong bernama Ahyi bahwa ada kiriman sabu seberat 800 Kg dari Filipina. Lantas, Wong langsung mencari orang.
Dia meminta temannya bernama Sujardi untuk mencari nahkoda kapal supaya bisa melakukan transaksi di tengah laut. Lantas, Sujardi mengenalkan Wong dengan Ahmad Wijaya dan akhirnya mereka bertemu. Ahmad kemudian diperintah menjadi nahkoda kapal agar transaksi bisa dilakukan.
Selain nahkoda kapal, Ahmad juga meminta seseorang bernama Β Syarifudin Nurdin untuk menjadi sopir mobil boks di Jakarta. Rencananya, bila transaksi di laut berhasil, Syarifudin lah yang akan mengantarkan barang haram itu ke markas mereka.
Setelah itu, Wong tidak tanggung-tanggung dia mengontrak sebuah kapal laut penangkap ikan seharga Rp 500 juta dengan jangka waktu 3 bulan. Wong juga meminta rekannya untuk membeli 2 buah mobil minibus yang rencananya digunakan untuk mengangkut sabu kiriman tersebut.
Setelah moda transportasi siap, Wong membuat sebuah markas di wilayah Citra Garden, Jakarta Barat. Rumah itu dikontrak Wong sebagai markas mereka. Sindikat Wong kembali merekrut orang untuk diperbantukan, dia merekrut 2 WN Cina yaitu Tam Siu Liung dan Siu Cheuk Fung. Kedua orang itu diperkajakan untuk memodifikasi markas Wong Chi Ping di Citra Garden.
Wong terus merekrut orang untuk membuat kerajaanya makin perkasa. Dia kembali merekrut seseorang atas nama Tan See Ting untuk menjadi pengemudi Wong di Jakarta. Dengan demikian Wong memiliki 2 driver yaitu Tan See dan Syariffudin. Selain driver, Wong juga memerintahkan Ahmad untuk mencari ABK. Dan akhirnya, Wong menemukan orang bernama Andika untuk menjadi ABK kapal.
31 Desember 2014
Wong mendapat kabar bahwa kapal pengangkut sabu dari Filipina akan berangkat ke Indonesia. Wong lantas menyiapkan kapal laut yang sudah disewanya untuk berangkat melakukan transaksi. Wong dengan bandar besarnya sudah sepakat menentukan kordinat di mana mereka akan melakukan transaksi di daerah Kepulauan Seribu.
2 Januari 2015
Kapal Wong sudah berangkat dari Jakarta menuju Pulau Pramuka. Jarak dari Pulau Pramuka ke lokasi transaksi memakan waktu 5 jam. Tetapi hal itu tidak berlangsung mulus. Kapal Wong Chi Ping mati dan butuh 1 hari untuk perbaikan.
3 Januari 2015
Sabu seberat 800 Kg itu akhirnya berpindah ke kapal Wong. Setelah proses transaksi selesai, kapal milik Wong pulang ke Jakarta. Lagi-lagi perjalanan mereka tidak mulus. Kapal terpaksa bersandar karena ada gelombang besar.
5 Januari 2015
Akhirnya kapal itu bersandar di dermaga Dadap, Tangerang. Barang haram dengan jumlah banyak itu langsung dipindah ke mobil untuk dihitung di darat. Selanjutnya, Wong memerintahkan supaya mobil pengangkut sabu tersebut segera menuju pusat perbelanjaan di wilayah Taman Surya, Kalideres, Jakarta Barat.
Di tanggal 5 Januari pulaWong Chi Ping mengalami apes. Rupanya transaksi mereka dari tengah laut sudah diikuti oleh BNN. Ketika mobil terparkir, Wong dan kawan-kawan langsung diciduk di halaman parkir pusat perbelanjaan tersebut. Kisah perjalanan Wong ternyata berakhir pada hari kelima di tahun 2015. Wong langsung diciduk ke markas BNN. Sabu 800 Kg miliknya pun dimusnahkan tak berapa lama pasca penangkapan tersebut.
Lantas apa tanggapan Wong?Β
Atas dakwaan itu Wong mengakui perbuatannya melakukan tindak pidana. Tetapi Wong tidak rela dirinya disebut sebagai kartel narkotika. Selain itu, Wong juga menegaskan ke majelis hakim bahwa perbuatannya hanyalah mengantarkan sabu bukan mengedarkan atau pun menjualnya.
Wong yang dituntut vonis mati juga meminta belas kasihan pada hakim karena dirinya masih mempunyai hak untuk hidup. Di samping itu, Wong juga menganggap dirinya masih dibutuhkan untuk memberikan keterangan kepada big boss nya yaitu Ahyi yang kini statusnya masih buronan.
(rvk/asp)











































