Butuh perjuangan sampai akhirnya bisa memiliki kios. Rosmiyati dan suaminya memulai usaha penjualan buku dengan membantu saudaranya yang sudah punya kios lebih dahulu.
"Saya berjualan di sini dari awal. Tahun 81 saya jualan di sini. Saya lebih memprioritaskan menjual buku-buku pelajaran. Ada juga novel dan kitab-kitab," jelas Rosmiyati saat berbincang dengan detikcom, Kamis (12/11).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau orang-orang lama sudah pada meninggal. Ada yang diganti anaknya, ada yang sudah berhenti. Ada banyak juga yang mereka ganti haluan mencari nafkahnya. Karena perkembangan teknologi yang semakin menghimpit mata pencaharian kami," jelas Rosmiyati.
"Kalau yang jualan buku di dalam pasar Senen ini termasuk orang-orang baru. Soalnya kan banyak yang keluar masuk berganti-ganti yang jadi penjual," tambahnya lagi.
Matahari semakin tinggi. Siang semakin gerah di Jakarta. Rosmiyati sibuk melayani pembeli yang mencari buku pelajaran. Di tengah era buku digital dan internet, menjual buku adalah hidup Rosmiyati dan keluarganya. Di masa sekarang ini, penghasilannya terus menurun, tapi itu tak membuat dia menyerah.
Rosmiyati memang kerap membayangkan, bernostalgia kembali masa-masa saat buku diburu dan dicari orang, buku apa saja. Saat itu penghasilan besar juga dia dapat.
"Kalau zaman dulu zaman Soeharto, banyak bukunya dan pembelinya juga banyak. Buku apa saja laku," imbuh dia.
Teknologi memang membuat generasi baru memilih membaca lewat internet. Rosmiyati sadar tentang itu, tapi dia yakin para pecinta buku tetap akan datang ke Pasar Buku Senen. (dra/dra)











































