Mufidah Kalla Harap Benang Tenun NTT Bisa Lebih Halus

Mufidah Kalla Harap Benang Tenun NTT Bisa Lebih Halus

Mulya Nur Bilkis - detikNews
Rabu, 11 Nov 2015 19:03 WIB
Mufidah Kalla Harap Benang Tenun NTT Bisa Lebih Halus
Foto: Rengga Sancaya
Maumere - Tenun ikat NTT adalah salah satu kain yang kini sedang menarik hati banyak orang. Corak yang beragam serta kain yang tebal membuatnya menjadi primadona.

Di tahun 2015, tenun ikat digunakan sejumlah desainer ternama untuk peragaan busana. Hal ini, secara tidak langsung ikut membawa pengaruh positif pada para penenun tenun ikat di desa-desa NTT.

Ketua Dekranas pusat sekaligus istri Wakil Presiden RI Mufidah Jusuf Kalla adalah salah satu penggemar tenun ikat asal NTT. Saat meninjau kelompok kerja di kabupaten Sikka, ia mengaku senang masih banyak ibu-ibu yang bertahan menjadi penenun tenun ikat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mereka punya motif bagus-bagus. Penenun dari Sikka ini sudah cerdas saya kira. Walaupun mereka tidak sekolah tinggi, tapi mereka bisa memberi yang terbaik untuk daerahnya," ucap Mufidah usai acara peresmian pembukaan Festival Telut Maumere, Rabu (11/11/2015).

Sebagai salah satu pemakai kain tenun ikat NTT, ia pun mengomentari kualitas benang yang digunakan untuk membuat kain tenun. Menurutnya, karena benangnya terlalu tebal, maka tak jarang orang merasa gatal saat memakai kain tenun.

"Saya cuma kasih tahu, kalau ada kekurangan sedikit saja yakni yang terlalu keras dipakai agak gatal. Saya bilang kalau bisa diperlembut benangnya. Diganti dengan yang lembut," sambungnya.

Ia memberi contoh beberapa kain tenun yang tipis. Bahkan menurutnya bukan tidak mungkin digunakan benang lokal seperti di Sulawesi Selatan.

"Memanfaatkan benang-benang lokal jadi bisa dikombinasikan," ucapnya.

Untuk menghasilkan 1 kain tenun ikat Sikka, dibutuhkan waktu sekitar 1 hingga 2 bulan. Lama waktunya tergantung dari lama pewarnaan benang yang menggunakan pewarna alami.

Kini, sudah banyak penenun yang menggunakan pewarna kimia untuk kain tenun mereka. Pewarna kimia membantu mempersingkat waktu pengerjaan dan warnanya lebih cerah.

Namun, Gubernur NTT Frans Lebu Raya mengatakan saat ini semakin banyak penenun yang menggunakan pewarna alami daripada kimia.

"Lebih banyak yang alami karena mereka bisa menghasilkan dari kebun sendiri," ucap Frans Lebu. (mnb/mok)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads