Kisah Pilu WNI Overstayer di Arab Saudi: Rindu Pulang Tapi Tak Punya Uang

Kisah Pilu WNI Overstayer di Arab Saudi: Rindu Pulang Tapi Tak Punya Uang

Rini Friastuti - detikNews
Rabu, 11 Nov 2015 18:08 WIB
Kisah Pilu WNI Overstayer di Arab Saudi: Rindu Pulang Tapi Tak Punya Uang
Foto: Rini Friastuti/detikcom
Jakarta - Banyak kisah dari WNI Overstayer dari Arab Saudi yang dipulangkan pemerintah Indonesia hari ini. Beberapa dari mereka mengaku ingin pulang namun tak memiliki biaya, tapi ada juga yang sudah kerasan, namun rindu Tanah Air dan keluarga.

Sebanyak 450 orang WNI Overstay dan TKI undocumented telah tiba di bandara internasional Soekarno Hatta, Rabu (11/11/2015) sore. Kebanyakan dari mereka ternyata berasal dari Madura, dengan beragam latar belakang dan kisah selama menetap di Arab Saudi.

Fadli misalnya, pria 60 tahun asal Sampang, Madura, ini mengaku baru dua tahun berada di Jeddah. Alasannya berangkat ke negeri penghasil minyak tersebut tak lain dan tak bukan adalah untuk mencari penghidupan yang layak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di sana kerja sebagai staf bersih-bersih di hotel umroh. Paspor baru habis Juli 2015 ini," jelasnya.

Sekian tahun menetap, ternyata Fadli memiliki keinginan untuk kembali ke Indonesia. Namun apa daya, uang yang terkumpul belum mencukupi untuk membeli tiket pulang.

Menjadi WNI overstayer, yang membuatnya khawatir adalah polisi Jeddah yang selalu mengecek ke setiap tempat apakah ada warga negara asing yang overstay. Berangkat dari kekhawatiran itulah dirinya memilih untuk menyerahkan diri ke polisi.

"Daripada rumahnya diketok-ketok, lebih baik kita menyerahkan diri. Di kantor polisi didata, ternyata ada orang KJRI yang sedang melakukan pemulangan WNI yang overstay. Ya sudah, akhirnya dipulangkan," jelasnya.

Cerita lain datang dari M Hanwari, pria 45 tahun asal Sumenep. Awal mula dirinya berangkat ke Makkah semata-mata untuk memuluskan niatnya melaksanakan ibadah haji.

"Saya pengen sekali naik haji, terus ada teman mengajak kesana, mungkin bisa kerja. Nanti setelah kerja bisa naik haji, dan bisa pulang setelah mendapatkan modal untuk usaha," jelas dia.

Hanwari hanya 30 bulan berada di Makkah. Untuk hidup sehari-hari dia mengandalkan pekerjaannya sebagai petugas kebersihan di penginapan jemaah haji.

"Kerja seadanya, bersih-bersih. Uang habis sudah lama, tapi mau pulang enggak ada (uang). Kebanyakan teman-teman juga mikir, kalau pulang mau kerja apa?," kata Hanwari dengan logat Maduranya yang kental.

Selama menetap di Makkah, Hanwari rupanya tak kerasan. Keinginannya untuk pulang ke Indonesia semakin kuat. Apalagi ketika mendapatkan kabar bahwa anaknya yang masih kecil selalu merengek memintanya untuk pulang ke rumah mereka yang sederhana di Sumenep.

"Makanya saat dikasih informasi dari petugas KJRI kemarin, hari ini saya dan teman-teman langsung dipulangkan. Saya sendiri tak khawatir kalau pulang nanti mau kerja apa. Saya yakin akan ada rezeki dari Allah," katanya.

Begitu mendapatkan informasi bahwa pemerintah akan memberikan modal untuk membuka lapangan usaha bagi para WNI ini, Hanwari merasa sangat bersyukur.

"Dari perhatian yang diberikan kami merasa berterima kasih. Apalagi mau dikasih modal untuk usaha. Nanti di kampung bisa usaha apa saja, ya bisa dagang, bisa tani dan ternak. Yang penting saya pulang dulu," jelasnya sambil tersenyum. (rni/hri)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads