Survei Cyrus Network: Ahok Lebih Dikenal, Ridwan Kamil Lebih Disukai

Survei Cyrus Network: Ahok Lebih Dikenal, Ridwan Kamil Lebih Disukai

Dhani Irawan - detikNews
Rabu, 11 Nov 2015 15:16 WIB
Survei Cyrus Network: Ahok Lebih Dikenal, Ridwan Kamil Lebih Disukai
Foto: Dhani Irawan
Jakarta - Cyrus Network memaparkan hasil survei mengenai bakal calon Gubernur DKI Jakarta untuk Pilkada 2017. Salah satu aspek yang ditunjukkan yaitu mengenai tingkat popularitas atau dikenal dan tingkat likeabilitas atau disukai.

Survei dilakukan terhadap 1.000 warga DKI kecuali Kepulauan Seribu dari kurun waktu 27 Oktober 2015 hingga 1 November 2015. Tingkat kesalahan dalam survei tersebut disampaikan sekitar 3,1 persen.

Dari segi dikenal, Ahok mengungguli para pesaingnya seperti Ridwan Kamil, Tri Rismaharini, Adhyaksa Dault hingga Sandiaga Uno. Ahok berhasil meraup 96,8. Sementara dari segi disukai, Ahok kalah dari Ridwan Kamil yang mendapat 72,4 dan Tri Rismaharini yang memperoleh 71,9.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ahok sendiri berada di urutan ketiga dari segi disukai dengan poin 67,2. Hal ini menurut Managing Director Cyrus Network Research and Consulting Eko Dafid Afianto, bukanlah faktor penentu lantaran dari sisi elektabilitas Ahok masih tak bisa diganggu gugat oleh para pesaingnya.

"Tahapannya kenal kemudian suka, tapi kalau dihadapkan pada memilih itu berbeda, orang cenderung lebih memilih Ahok," kata Eko dalam rilis survei di Horapa, Jalan Teuku Cik Ditiro, Menteng, Jakarta Selatan, Rabu (11/11/2015).

"Semakin banyak nama yang muncul, hari ini ada nama Adhyaksa Dault, bisa jadi nama Adhyaksa Dault itu menggerus suara. Ada hipotesa pemilih yang tidak suka dengan petahana itu diperebutkan oleh calon-calon lainnya," sambungnya.

Hal senada diungkapkan peneliti LIPI Syamsuddin Haris yang menyebut masyarakat saat ini lebih berpikir terbuka. Ketika seorang tokoh tidak disukai tetapi membuat kebijakan yang signifikan dan membela kepentingan umum maka bisa saja tokoh itu yang dipilih untuk maju dalam kompetisi Pilkada.

"Disukai faktornya banyak, bisa cakep, cantik, ganteng atau santun atau bisa kultural juga dari suku dan agama. Tapi kembali lagi bisa saja tidak atas dasar disukai. Dia mungkin tidak suka secara personal tapi dari kebijakan dan rekam jejak bisa saja dia pilih," kata Haris.

"Artinya memang dikenal dan disukai tidak menjadi acuan tingkat keterpilihan walaupun terkait satu sama lain," imbuh Haris.

(dha/van)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads