Dua media Indonesia, termasuk detikcom, atas undangan Australia Plus ABC International, mengunjungi export yard alias lapangan tempat mengumpulkan sapi sebelum diekspor, termasuk ke Indonesia, milik Wellard Rural Exports Pty Ltd, 50 km di selatan Kota Darwin, Northern Territory (NT) pada September 2015 lalu.
Lapangan itu berupa hamparan padang rumput yang luas sekali, dibatasi pagar-pagar palang besi sederhana. Ratusan bahkan ribuan ekor sapi Brahman berwarna putih dan cokelat tampak bertebaran di atas padang rumput itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Nograhany Widhi Koesmawardhani (detikcom) |
Dengan luasan sekitar 311 hektar itu, Bernie menambahkan, bisa menampung sapi hingga 7 ribu ekor. Pekerjanya pun tak perlu banyak-banyak untuk menangani ribuan sapi di lahan seluas itu, cukup butuh 7 karyawan. Bagaimana bisa?
"Stafnya di sini ada 7 staf, untuk 7 ribu ekor. Kami memakai mesin besar dan teknologi," jawab Bernie.
Sapi-sapi itu terlihat bebas makan rerumputan meski saat itu, rumput-rumput itu berwarna coklat saking keringnya.
Foto: Nograhany Widhi Koesmawardhani (detikcom) |
Matahari memang sangat terik di wilayah Australia yang paling utara itu, yang secara geografis paling dekat dengan Indonesia. Musim di NT juga hanya ada 2, musim kemarau dan musim hujan. Seperti halnya di Indonesia, kekeringan juga melanda NT September 2015 lalu.Β Β
Maka, supaya tak kurang gizi, pihak Wellard tampak menyediakan jerami-jerami untuk pakan ternak itu. Jerami-jerami itu diikat dalam satu gumpalan besar berbentuk balok, kemudian ditumpuk-tumpuk hingga 2-3 meter.
Foto: Nograhany Widhi Koesmawardhani (detikcom) |
Kemudian jerami-jerami itu diangkat oleh kendaraan semacam forklift untuk diberikan ke sapi-sapi melalui wadah pakan di tengah padang rumput.
Foto: Nograhany Widhi Koesmawardhani (detikcom) |
"Satu ikat jerami masing-masing beratnya 500 kilogram. Setiap ekor sapi membutuhkan 8 kilogram per hari. Itulah alasan kami punya mesin, supaya bisa memindahkan jerami dengan mudah," tutur Bernie.
Wellard tak menanam sendiri jerami-jerami itu melainkan memesannya pada petani khusus menumbuhkan tanaman pakan ternak.
"Petaninya 100 km dari sini, mereka menumbuhkan, mengemas dan mengirimkan dengan truk ke sini. Wilayah NT sama dengan Indonesia, hanya punya musim kemarau dan musim hujan. Semua jerami ditumbuhkan pada musim hujan, dipotong pada akhir musim hujan dan kemudian kami hanya menyimpannya saat musim kering," jelas dia.
Sapi-sapi yang ada di export yard saat itu, akan dikirim ke Indonesia dan Vietnam. Untuk Indonesia, lanjut Bernie, harus memenuhi beberapa persyaratan.
"Prosedur kami harus memastikan bahwa sapi-sapi itu memenuhi persyaratan ke Indonesia. Jadi syarat utama, sapi harus bersih dari parasit dan penyakit," jelas Bernie.
Foto: Nograhany Widhi Koesmawardhani (detikcom) |
Syarat kedua, imbuhnya, Indonesia meminta standar berat minimum 350 kilogram per ekor. "Karena Indonesia punya pakan yang murah, maka sapi dengan berat segitu bisa digemukkan lagi hingga 120 kilogram sehingga berat sapi bisa mencapai 500 kilogram per ekor," tuturnya.
Biasanya sapi-sapi ditaruh di export yard selama 4-5 hari sebelum dikapalkan. Wellard sendiri selama ini sudah menjadi eksportir hewan ternak hidup selama 30 tahun ke ASEAN, dan bekerja sama dengan sekitar 200 peternak di NT.
"Sebagian besar diekspor ke Indonesia, kemudian Vietnam dan Filipina," tuturnya.
Baca terus fokus Jelajah Australia, dan ikuti Hidden Quiz-nya! (nwk/hen)












































Foto: Nograhany Widhi Koesmawardhani (detikcom)
Foto: Nograhany Widhi Koesmawardhani (detikcom)
Foto: Nograhany Widhi Koesmawardhani (detikcom)
Foto: Nograhany Widhi Koesmawardhani (detikcom)
Foto: Nograhany Widhi Koesmawardhani (detikcom)