Makna Hari Pahlawan Bagi Arsilan, Bekas Tukang Kebun Bung Karno

Makna Hari Pahlawan Bagi Arsilan, Bekas Tukang Kebun Bung Karno

Ray Jordan - detikNews
Selasa, 10 Nov 2015 10:45 WIB
Makna Hari Pahlawan Bagi Arsilan, Bekas Tukang Kebun Bung Karno
Foto: Ray Jordan/detikcom
Jakarta - Usai upacara peringatan Hari Pahlawan di Taman Makam Pahlawan, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu meladeni pertanyaan dari wartawan dan lantas bergegas meninggalkan lokasi. Saat menuju mobil, langkahnya terhenti oleh seorang pria tua berpakaian seragam militer lengkap dengan baret warna merah. Siapa dia?

Adalah Arsilan, pria berumur 92 tahun yang langsung memberikan tanda hormat dan menyalami Ryamizard. Arsilan meminta Ryamizard untuk berfoto bersama di halaman Taman Makam Pahlawan, Jl Kalibata, Jakarta Selatan, Selasa (10/11/2015).

Mantan KSAD itu pun menyanggupi permintaan Arsilan. Keduanya tampak berdiri berdampingan sambil tersenyum. Foto pun diambil.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Usai Foto, Ryamizard meninggalkan Arsilan lalu masuk ke mobilnya dan meninggalkan lokasi. Sementara Arsilan hanya berdiri dan melihat kepergian Ryamizard sambil tersenyum.

"Bapak tahu tadi foto sama siapa?" tanya awak media.

"Tidak, makanya tadi saya lihat ramai, terus orangnya dikawal, makanya saya minta foto sekalian mau kenalan," ujar pria yang rambut dan kumisnya sudah memutih ini.

Saat berbincang, Arsilan mengaku pernah tergabung dalam pasukan Perintis Kemerdekan Republik Indonesia (PKRI). Hal ini juga terlihat dari seragam yang dikenakanya. Di bahunya tertempel lambang PKRI.

Bagaimana kisah hidup Arsilan?

Garis kerut terlihat jelas di wajahnya. Rambut dan kumisnya juga telah memutih. Namun semangat untuk mengikuti upacara peringatan Hari Pahlawan pantas dihargai.

"Tadi pagi-pagi sekali naik angkot sama teman berdua ke sini. Mau ikut upacara," kata Arsilan yang suaranya terdengar pelan.

Arsilan bercerita, sebelum kemerdekaan RI, dirinya tergabung dalam Tentara Pelajar Hasbullah. Saat itu dia berpisah dari orang tuanya.

"Perjuangan saya tidak pernah angkat senjata. Saya hanya berjuang dengan semangat dan tekad sambil meneriakkan Allahu Akbar!" kata pria asal Banten ini.

Kemudian sekitar tahun 1945, Arsilan bertemu dengan seseorang yang kemudian mempertemukannya dengan orang tua Arsilan. Tak lama kemudian, Arsilan diajak bekerja sebagai tukang kebun di rumah Sang Proklamator Kemerdekaan RI, Ir Soekarno.

"Saya kerja sekitar tahun 1945 di rumah Pak Karno, di Jalan Pegangsaan Timur 56. Saya jadi tukang kebun beliau," katanya.

Arsilan bekerja di rumah Bung Karno dari tahun 1945-1958. Dalam kurun waktu itu dirinya sedikit banyak tahu tentang kepribadian Presiden pertama RI itu.

"Beliau orangnya biasa-biasa saja. Sama pegawainya santun. Beliau Sang Proklamator, tapi tak segan-segan untuk makan bersama anak buahnya," kata Arsilan.

Kini zaman telah berubah. Arsilan tak lagi bekerja sebagai tukang kebun. Dia memilih untuk menetap di kawasan menteng, tepatnya di sekitar Tugu Proklamasi. Namun, tidak di dalam rumah.

"Saya tinggal di emperan. Kadang tidur di bawah pohon. Ya begitulah," katanya dengan suara sayup.




Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Arsilan berkeliling memungut sisa-sisa botol plastik untuk dijual kembali. "Sehari-hari memulung," katanya.

Arsilan tak berharap banyak kepada keluarga Bung Karno ataupun pemerintah. "Ya mengharap juga adanya uluran tangan, ada ingatannya," katanya.

Namun menurutnya, yang lebih pentng saat ini adalah generasi muda bisa meneruskan cita-cita para pejuang.

"Para pahlawan yang meninggal dalam tempur itu demi negara. Saya cinta negara ini. Bapak ingin kita semua makmur. Generasi muda yang harus meneruskan cita-cita pejuang," kata pria yang memilki dua anak ini. (jor/mok)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini