Mahasiswa Sampai Pengusaha Ikut Sosialisasi 4 Pilar di KJRI Sydney

Laporan dari Sydney

Mahasiswa Sampai Pengusaha Ikut Sosialisasi 4 Pilar di KJRI Sydney

Hardani Triyoga - detikNews
Selasa, 10 Nov 2015 00:09 WIB
Mahasiswa Sampai Pengusaha Ikut Sosialisasi 4 Pilar di KJRI Sydney
Foto: Hardani Triyoga
Sydney - Delegasi MPR bersama Konsulat Jenderal RI (KJRI) Sydney malam ini menggelar sosialisasi empat pilar. Kalangan mahasiswa sampai pengusaha asal Indonesia ikut serta dalam suasana penuh keakraban ini.

Sebelum acara dimulai, semua yang hadir termasuk delegasi MPR dan 95 WNI dari pengusaha dan mahasiswa melantunkan lagu Indonesia Raya. Tim sosialisasi MPR yang hadir adalah Wakil Ketua MPR Oesman Sapta Odang (Oso) yang memberikan kata sambutan.

Kemudian, lima anggota MPR lain yaitu Hana Hasanah Fadel Muhammad, Muhammad Asri Anas, Dellis Julkarson Hehi (kelompok DPD), Sarifuddin Suding (Fraksi Hanura), dan Bowo Sidik Pangarso (F-Golkar) menjadi pembicara. Keempat anggota MPR ini bertugas menjawab pertanyaan yang diajukan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam sambutannya, Oso udah memberikan suasana begitu hangat. Dia menceritakan pengalamannya saat tinggal di Amerika Serikat (AS) sampai ada sejumlah WNI yang sudah pindah kewarganegaraan.

Ia melihat semangat nasionalisme terhadap WNI di luar negeri mulai luntur.

"Saya cuma minta Anda ingat bahwa Anda pernah jadi orang Indonesia. Saya cuma mengingatkan. Yon Sumaryono yang di sini 57 tahun tapi masih jadi WNI. Tapi, ada yang 30 tahun di sini sudah pindah (kewarganeraan). Di situlah yang menurunkan nilai-nilai kebangsaan kita," tutur Oso di KJRI Sydney, 236 Maroubra Road, New South Wales, Senin, (9/11/2015).

Setelah memberikan kata sambutan, sesi langsung dilakukan sesi tanya jawab terkait tema sosialisasi empat pilar. Berbagai cerita dan pertanyaan langsung diutarakan dari kalangan pengusaha, guru, dan mahasiswa.

"Kita masih mendapat hambatan. Dari kesadaran penggunaan Bahasa Indonesia oleh anak-anak WNI di sini (Australia) masih lemah. Ini harus dilestarikan kerena ini budaya yang dipertahankan. Bahasa ini penting sebagai salah satu nilai 4 pilar Pancasila," tutur salah seorang WNI yang berprofesi sebagai guru, Epi.

Kemudian, salah seorang mahasiswa yang tergabung dalam Keluarga Pelajar Indonesia di Sydney, Agung membandingkan suasana keakraban sesama umat muslim Indonesia saat beribadah di Sydney.

"Kita di Sydney biasa berdampingan, mesjid kita satu. Saya sering menjadi ma'mum dengan syiah. Saya juga sering syiah dengan ma'mum. Bagaimana di Indonesia? Mestinya Bhineka Tunggal Ika sebenarnya dari situ," tutur Agung.

Lalu, ada pertanyaan yang mengundang perhatian dari tokoh WNI di Sydney, Yon Sumaryono. Ia mengkritisi peran Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang masih lemah dalam mewakili konstuen rakyat pemilihnya. Ia menilai DPD yang merupakan wakil rakyat independen masih kalah perannya dengan DPR.

Yon mempertanyakan ini karena kebetulan ada anggota MPR dari perwakilan DPD termasuk Oesman Sapta.

"Sejauh mana DPD berperan, karena alam undang-undangnya harusnya ini menjadi senator. Tapi, perannya belum jadi senator saya lihat. Bagaimana apakah undang-undangnya atau bagaimana?" tanya Yon.

Oso pun memberikan jawaban yang blak-blakan terkait peran DPD yang dinilai belum maksimal.

"Jadi, ini Pak saya akui. Saya salah satu orang yang mendirikan DPD, 1999 - 2004. DPD ini betul seperti yang bapak bilang. DPD bukan jadi senator. Banci, masih banci kewenangannya. Padahal, itu perintah undang-undang," sebut Oso.

"Jujur keinginan bapak itu merupakan keinginan DPD. Karena DPD itu kan independen, beda dengan DPR dari partai politik. Itu beda-beda lagi," sambung Oso.

Selanjutnya, beberapa cerita dan pertanyaan masih dilakukan dalam sesi dua. Setelah sesi tanya jawab selesai, kemudian dilakukan foto bersama dan penyerahan buku sosialisasi 4 pilar dari delegasi MPR kepada WNI yang berdomisili di Australia.

(hty/rvk)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini