"Hasil observasi kita terhadap 3 bayi orangutan itu kini mengalami stres berat dan mengalami diare. Sehingga kondisi badanya lemas," kata Bidang Penanganan Kejahatan Satwa Liar, WWF Riau, Osmantri, yang diundang dalam jumpa pers di Direktorat Reskrimsus Polda Riau, Senin (9/11/2015) di Pekanbaru.
Osmantri yang akrab disapa Abeng ini menjelaskan, dalam perburuan liar, biasanya untuk mendapatkan bayi orangutan induknya terlebih dahulu dibunuh dengan tembakan. Karena, lanjut Abeng, bayi orangutan tidak bisa lepas dari induknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena itulah, lanjutnya, para pemburu liar untuk mendapatkan bayi orangutan harus terlebih dahulu membunuh induknya. Bisa jadi, induk orangutan ditembak terlebih dahulu untuk mendapatkan bayinya.
"Induknya dapat kita pastikan terlebih dahulu dibunuh, agar bayinya bisa dikuasai. Kami yakin, order dari Pekanbaru bukan yang terakhir, bisa jadi ini tujuan akhirnya ke luar negeri," kata Abeng.
Pihak WWF meminta pihak kepolisian terus mengusut soal perburuan liar orang utan ini. Karena bila dibiarkan, ancaman serius akan kepunuhan orangutan akan semakin bertambah. Saat ini orangutan yang tersisa sekitar 35 ribu ekor yang habitatnya hanya ada di Aceh untuk Sumatera.
"Sasaran pemburu liar adalah anak orangutan untuk diperjualbelikan di perdagangan internasional. Bayi orangutan lebih laku di pasaran gelap karena nantinya akan lebih muda dipelihara dan setelah dewasa bisa lebih jinak," kata Abeng. (cha/try)











































