Zein merupakan warga Poncol, Pekalongan Timur, Pekalongan, Jawa Tengah. Plakat penghargaan dari MURI diterimanya pada Minggu (8/11/2015) usai tampil dalam puncak HUT Perguruan Mahad Islam Pekalongan. Pria beranak 4 dan bercucu 6 ini aktif sebagai pengurus mahad tersebut.
Di lingkungan mahad, Zein dipanggil 'amazen', tetua di mahad. Dia menjadi mayoret sejak tahun 1962. Posisinya tak tergantikan meski anggota drum band terus berubah.
![]() |
"Yang ganti anggota drum bandnya. Soalnya anggota drum band seusia saya, sudah tidak ada (meninggal)," kata Zein di rumahnya di Poncol Gang 2, Pekalongan Timur, Pekalongan, Senin (9/11/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sejak tahun 1962 sampai sekarang, ini yang saya gunakan," jelas Zein sambil menunjuk tongkat kayu berwarna hitam dengan ujung berlapis kuningan.
Karena umur, Zein jelas tak mungkin tampil seminggu atau sebulan sekali. Cukup setahun sekali. Khusus di ulang tahun Mahad Islam Pekalongan.
![]() |
Zein diusulkan sebagai mayoret tertua oleh pihak Mahad. Salah satu pengurus, Nur Akhwan, menilai Zein layak mendapatkan gelar itu. Dedikasinya sebagai mayoret tak diragukan lagi.
"Setahun sekali, beliau masih aktif di barisan terdepan drum band alumnus Mahad," katanya.
Zein bersyukur dirinya mendapat gelar. Dia mengaku akan tetap menjadi mayoret sampai tidak kuat lagi. Selain dari MURI, dia mendapat penghargaan dari Persatuan Drum Band Indonesia (PDBI) baik pengurus pusat mapun provinsi karena dinilai berdedikasi sebagai mayoret. (try/nrl)