"Sudahlah, kita tunggu lima tahun lagi (setelah Munas Bali 2014) silakan berkompetisi (untuk menjadi Ketua Umum Golkar lewat Munas)," kata Sekjen Golkar kubu Ical, Idrus Marham, kepada detikcom, Senin (9/11/2015).
Dia menegaskan, berdasarkan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga Golkar maka Munas hanya digelar lima tahun sekali. Toh, menurut Idrus, Munas sebelumnya juga tak mengamanatkan Munas digelar tahun 2015.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, lebih baik semua pihak mengembalikan kepada keputusan hukum. Kubu Ical berpegang pada putusan Mahkamah Agung, putusan Pengadilan Negeri Jakarta Utara, dan Pengadilan Tinggi Jakarta yang telah berpihak kepadanya. Kubu Agung juga diharapkan patuh terhadap keputusan hukum saat ini ataupun nantinya.
"Kita tidak pernah menghendaki Munas (dalam waktu dekat -red). Kita mau Munas tapi dasar aturannya harus jelas, maka Munas 2019," ujar Idrus.
Sebelumnya, Yorrys menilai Ical setuju saja bila Munas digelar. Hanya saja, waktunya belum ditentukan. Munas digelar agar dua pihak berseteru bisa bersatu.
"Dari dulu dia bilang kan mau, yang bilang nggak mau siapa?" kata Yorrys di sela diskusi 'Jalan Keluar Sengkarut Konflik Partai Golkar' di Kantor DPP Golkar, Jl Anggrek Neli, Slipi, Jakarta, Minggu (8/11) kemarin.
Politisi Golkar kubu Agung, yakni Dave Laksono, memandang Munas merupakan satu-satunya jalan agar perpecahan Golkar bisa berakhir. "Saya secara pribadi melihat konflik hanya bisa diselesaikan dengan munas bersama," kata Dave kemarin.
(dnu/kha)











































