Kepala Sub Bidang Informasi Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Hary Tirto Djatmiko menjelaskan kepada detikcom, Senin (9/11/2015). Petir dan angin ribut terjadi di awal musim penghujan karena ada banyak energi yang tersimpan saat pergantian suhu, begitulah kira-kira pemahaman umumnya.
"Di awal musim, banyak energi di awan-awan yang terbentuk," kata Hary mengawali penjelasan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Awan konvektif terbentuk dari pagi hingga siang. Kemudian siang sampai malam hujan lebat. Dari panas ke hujan akan banyak energi yang tersimpan, terjadilah petir," tutur Hary.
Lalu kenapa petir mulai berkurang saat pertengahan musim penghujan? Itu karena di pertengahan musim, cuaca sudah relatif stabil.
"Di tengah musim, hujan turun tak mengenal waktu," kata dia.
Penjelasan soal angin kencang juga paralel dengan penjelasan soal petir. Pada saat seperti sekarang ini, penguapan dan radiasi cukup tinggi. Begitu awan hujan terbentuk maka energi yang tersimpan juga cukup tinggi. Bilamana kilat dan angin ribut akan terjadi? Bila siang panas dan sore mendung, begitulah penjelasan sederhananya.
"Masyarakat merasa gerah dan pengap saat pagi hingga siang. Di langit, awan seperti bunga kol bertumbuh, kemudian warnanya menjadi kehitaman. Potensi itulah yang membuat hujan lebat disertai kilat, petir, dan angin kencang dalam durasi singkat," paparnya.Β Β
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, sejumlah peristiwa orang tersambar petir sudah terjadi. Viki Adiansyah (10) tewas di pekarangan belakang rumahnya, di Ponorogo Jawa Timur. Di Jonggol Bogor Jawa Barat, seorang pria bernama Nahilan (68) tewas tersambar petir di persawahan. Keduanya tewas pada Sabtu (7/11/2015).
Angin puting beliung juga menerjang Blora Jawa Tengah, sore sebelum hujan Minggu (8/11) kemarin. 15 Rumah rusak tertimpa pohon tumbang. Di Jakarta, sebuah pohon di kolong Jembatan Semanggi tumbang karena angin kencang. (dnu/kha)











































