Dalam Seminar "Child Domestic Abuse and Harp Healing Performance by Fania Muthia" di Soehanna Hall, The Energy Building Personal Project for Binus School Simprug, Jakarta Selatan, Minggu (8/11/2015), dijelaskan korelasi antara alunan musik dari harpa dan terapi anak. Menurut Heidy Awuy, salah seorang harpist, musik adalah salah satu bahasa universal yang dibutuhkan jiwa.
"Harpa salah satu alat yang bervibrasi, senar harpa ternyata mengeluarkan gelombang-gelombang sel-sel elektromagnetik yang akan mengeluarkan ketenangan" tutur Heidy.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fania saat bermain harpa (foto: Dita/detikcom) |
Selain membahas soal Child Abuse, ada juga penampilan harpa sebagai musik healing yang ditampilkan oleh Fania. Ada empat lagu seperti Le Cygne, Clair de Lune, Canon in D dan La Riviere. Keempat lagu ini dimainkan oleh Fania sebagai bagian dari kampanye harpa sebagai musik penyembuh.
Turut bermain bersama Fania, Heidy Awuy, harpist yang juga guru Fania serta Elfia, adik Fania yang memainkan cello. Duet guru dan murid dapat didengar pengunjung ketika mereka memainkan Canon in D ciptaan Johann Pechbell.
Alunan musik yang sayup merdu ini kian harmonis ketika temaram lampu panggung diredupkan. Penonton riuh bertepuk tangan setiap lagu selesai dimainkan. Semuanya hening mendengarkan permainan harpa yang mengalunkan musik nan syahdu.
Lagu terakhir yang dimainkan Fania adalah lagu ciptaannya. Ia bermain solo membawakan "La Riviere". Lagu ini mencerminkan perjuangan dan keadaan anak-anak kecil ketika mengalami kekerasan dalam rumah tangga.
"Judul lagu yang berarti sungai saya pikir adalah skenario yang cocok untuk menjelaskan bahwa anak seharusnya mempunyai kebebasan dan kebahagiaan. Tetapi dengan Child Domestic Abuse, mereka mengalami emosi yang tidak stabil seperti sungai yang mengalir deras dan berombak" tutur Fania.
Di akhir permainannya seluruh peserta seminar riuh bertepuk tangan. (mad/mad)











































Fania saat bermain harpa (foto: Dita/detikcom)