"Upaya pencegahan yang harus dilakukan regulator harus kuat mengatur syarat pembukaan aplikasi nomor telepon genggam, karena hal ini juga terkait, sehingga bisa disalahgunakan untuk kejahatan," kata Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Krisna Mukti di Mapolda Metro Jaya, Sabtu (7/11/2015).
Menurutnya jika setiap pembukaan nomor telepon selular dilengkapi identitas diri. Tentu pihak kepolisian tidak mudah untuk melakukan penyelidikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan fakta yang terjadi di lapangan justru tidak seperti itu. Masyarakat dengan gampang membeli nomor dan memasang identitas palsu.
"Tapi kenyataannya seperti pengawasan kurang dilakukan dalam pembukaan aplikasi seluler baik tingkat provider pusat maupun bawah di tingkat pengecer. Kita berharap dengan ada kasus ini maka akan diperketat," paparnya.
Sejauh ini sudah ada beberapa bank yang memiliki respon cepat pemblokiran. Oleh karena itu komplotan ini pun tidak berani menggunakan bank tertentu.
"Beberapa bank sudah baik dengan cepat memblokir, sehingga ada beberapa bank yang tidak digunakan pelaku. Kerugian yang kami dapatkan ada banyak, berdasarkan data hampir Rp 13 miliar yang sempat di blok tetapi belum sempat ditransfer namun tidak bisa diambil juga. Kami harapkan kedepan ada edukasi yang diberikan kepada masyarakat," kata Krisna.
Krisna juga menjelaskan mayoritas mereka yang jadi korban merupakan kalangan ekonomi menengah bawah.
"Seperti kita ketahui kalau penggunan handphone ini sudah masif digunakan masyarakat, tidak hanya kaum menengah atas tapi juga menengah bawah. Problemnya masyarakat ekonomi menengah bawa ini lebih banyak tertipu," imbuh Krisna.
Krisna mengatakan mayoritas korban penipuan masyarakat yang bertempat tinggal di Jakarta. Penangkapan ini komplotan Efendi sendiri berdasarkan aduan masyarakat di Polda Metro Jaya.
"Kami concern mengungkap memang dengan laporan yang diterima Polda Metro Jaya. Kami kejar pelakunya mulai dari Cianjur, Lembang dan terakhir di Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan. Ini lebih karena kepedulian atas resahnya masyarakat yang menerima SMS penipuan sehingga terutama mereka yang 'Less Education'," paparnya.
Krisna mengungkapkan komplotan ini bekerja dengan aplikasi SMS caster. Efendi alias Lekeng sendiri memiliki peran sebagai fasilitator anak buahnya.
"Mulai dari tempat tinggal sampai kebutuhan sehari-hari anak buahnya di Bandung berasal dari Efendi termasuk peralatan kerja seperti modem, laptop dan belasan telepon genggam," tandasnya. (edo/ega)











































