Sabo Dam Bukti Kerjasama Jepang-Indonesia dalam Mitigasi Bencana

Sabo Dam Bukti Kerjasama Jepang-Indonesia dalam Mitigasi Bencana

Bagus Kurniawan - detikNews
Sabtu, 07 Nov 2015 12:54 WIB
Sabo Dam Bukti Kerjasama Jepang-Indonesia dalam Mitigasi Bencana
Foto: Bagus Kurniawan
Yogyakarta - Indonesia dan Jepang merupakan dua negara yang rawan berbagai bencana seperti gempa bumi, tsunami dan erupsi gunung Merapi. Kedua negara tersebut mempunyai gunung api aktif. Bahkan 17 persen gunung api aktif di dunia berada di Indonesia.

Dalam menanggulangi ancaman erupsi gunung api di Indonesia, pemerintah Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA) selama lebih kurang 40 tahun telah menjalin kerjasama dalam mitigasi bencana. Salah satunya adalah teknologi sabo dam yang diterapkan di beberapa gunung berapi di Indonesia.

Teknologi sabo dam hasil kerjasama Jepang dan Indonesia efektif dikembangkan di sejumlah wilayah yang mempunyai gunung berapi, seperti di Gunung Merapi, Gunung Semeru dan Gunung Kelud di Jawa Timur, Gunung Galunggung di Jawa Barat dan Gunung Agung di Bali.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kata Sabo berasal dari gabungan dua kata Bahasa Jepang. Kata (Sa) berarti pasir, dan (bo) yang artinya pengendalian. Sabo berarti sistem pengendalian erosi, sedimen, lahar hujan, dan penanggulangan tanah longsor.

Di Indonesia fungsi Sabo lebih banyak dipraktekkan dalam teknologi pengendalian material di hulu sungai yang ada di gunung berapi. Sabo berfungsi untuk menangkap aliran debris atau lahar sehingga debit aliran menjadi berkurang atau pengedalian sedimen.

Sabo juga bisa berfungsi untuk mengarahkan dan memperlambat aliran material di sungai, tempat pengendapan, pengarah aliran untuk mencegah penyebaran, dan membatasi terjadinya aliran lahar atau bahaya sekunder gunung api.

Teknologi sabo dam di Indonesia saat ini banyak dibangun di sepanjang sungai di sekitar hulu gunung berapi. Salah satunya adalah sabo dam di Gunung Merapi. Hampir semua aliran sungai yang berhulu di Merapi yang ada di empat kabupaten yakni Boyolali, Klaten, Magelang dan Sleman dibangun sabo dam.

"Pemerintah Jepang melalui JICA banyak memberi bantuan kepada Indonesia terutama dalam pembangunan infrastruktur. Salah satunya melalui proyek sabo dam yang dimulai sejak tahun 1984 atau sudah 40 tahun lamanya," ungkap Mr Takuro Tasaka selaku Concelor of JICA, Indonesia Office saat berkunjung di Balai Sabo, di Maguwoharjo, Sleman.

Saat ini proyek Sabo dam tidak hanya fokus pada wilayah Yogyakarta, Jawa Timur dan Bali saja namun juga di daerah-daerah lain terutama dalam hal mitigasi bencana. Salah satunya adalah memberikan bantuan saat terjadi bencana di Aceh dan Padang Sumatera Barat.

Kepala Balai Sabo, Dwi Kristianto mengatakan di sekitar Merapi ada lebih dari 250-an sabo dam yang dibangun bersama JICA maupun Kementrian PU. Sabo-sabo dam tersebut berfungsi untuk menahan sedimen pasir saat terjadi hujan sehingga tidak menimbulkan kerusakan di daerah yang ada di bagian bawah. "Fungsi sabo dam bukan untuk ancaman bahaya primer namun untuk menanggulangi ancaman bahaya sekunder," katanya.

Menurutnya fungsi sabo dam berbeda dengan fungsi dam irigasi. Fungsi sabo dam salah satunya untuk nmenangkap material lepas yakni pasir yang ada di hulu sungai agar tidak turun ke bawah secara cepat.  

"Fungsi sabo dam itu beda dengan dam irigasi. Sabo dam untuk menangkap material lepas berupa pasir. Sedangkan kalau dam irigasi untuk menangkap air. Namun saat ini di balai Sabo juga mulai mengembangkan berbagai teknologi sabo dam diantaranya bisa untuk saluran air irigasi," katanya.

Balai Sabo saat ini menjadi tempat mengembangkan teknologi dalam mitigasi bencana terutama berkaitan dengan aliran material yang ada di hulu sungai. Berbagai perangkat teknologi seperti kamera CCTV, pencatat hujan, dan sistem informasi hujan dikembangkan di tempat itu. "Kita gandeng semua lapisan masyarakat melalui berbagai komunmitas untuk mitigasi bencana," katanya.

Sementara itu salah satu tim penasehat teknik asal Jepang yang diperbantukan di Kementrian PU, Junichi Fukushima mengungkapkan salah satu sabo dam yang di bangun di Kali Kuning ini sangat penting fungsinya. Sabo dam yang berada di aliran Kali Kuning yang berjarak 9 km dari puncak itu bila mengalir ke arah hilir akan melewati salah satu obyek vital yang harus di lindungi. "Sekitar 15 km ke arah hilir atau ke selatan ada satu obyek vital yakni Bandara Adisucipto. Jadi sabo dam ini sangat penting untuk melindungi fasiltas bandara," kata Fukushima.

Menurut dia, pembangunan sabo dam kali Kuning pada tahun 2006 itu sangat tipikal dengan menerapkan teknologi terkini dalam pembangunannya. Dam tidak hanya berfungsi menahan aliran material saja tapi juga berfungsi untuk aliran air dengan adanya celah dan lobang aliran air.

"Di atas dam juga bisa berfungsi untuk jembatan jalan dan saluran irigasi saat tidak terjadi erupis. Sabo dam bisa menampung 2 ribu meter kubik material Merapi," katanya.

Dia mengatakan  teknologi sabo dam di Indonesia dan Jepang memiliki perbedaan. Di Jepang bahan baku utama sabo dam adalah besi baja sehingga lebih kuat dan tahan gempa. Sedangkan di Indonesia masih menggunakan beton atau semen-pasir.

Menurutnya, tipe dam seperti bertipe terbuka. Model dam terbuka atau open slit dam seperti ini hanya dikembangkan dan ada di Indonesia. Sedangkan di Jepang tidak ada. "Sabo dam yang ada di selatan Merapi sangat berfungsi pasca terjadi erupsi 2010 lalu karena bisa menahan aliran sedimen dari atas ke bawah," katanya.

Dia menambahkan pasca erupsi tahun 2006 dan 2010 lalu, dapat menjadi pelajaran bersama atau transfer teknologi antara Jepang dan Indonesia dalam pembangunan sabo dam. Pasca erupsi 2010 lalu, ada proyek sabo dam yang di desain ulang dan ada juga yang direhabilitasi pembangunannya.

"Pasca erupsi Merapi 2010 ada 80-an sabo dam yang rusak. Sebagian dibangun lagi melalui proyek kerjasama dengan Jepang-Indonesia, namun ada pula yang dikerjakan langsung oleh Kementerian PU karena tenaga ahli Indonesia sudah mampu menanganinya," pungkas Fukushima.

(bgs/aan)


Berita Terkait