Di Italia, Bima Arya Banggakan Kerukunan Beragama Warga Bogor

Di Italia, Bima Arya Banggakan Kerukunan Beragama Warga Bogor

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Sabtu, 07 Nov 2015 05:20 WIB
Di Italia, Bima Arya Banggakan Kerukunan Beragama Warga Bogor
Foto: dok. Pemkot Bogor
Jakarta - Wali Kota Bogor Bima Arya menghadiri konferensi 'Unity in Diversity' di Florence, Italia. Dalam forum yang dihadiri oleh 100 wali kota seluruh dunia itu, Bima bercerita tentang kerukunan umat beragama di Kota Bogor.

"Dengan penuh kebanggaan, saya ingin menyampaikan bahwa kota yang menjadi rumah dari satu juta warga ini adalah satu dari kota-kota di Indonesia yang tidak pernah menghadapi persoalan konflik sosial serius yang mengancam persatuan warganya. Di kota ini, ada salah satu vihara tertua di Indonesia  tempat ibadah umat Budha yang juga kerap dijadikan tempat pengajian bagi kaum muslim. Di bulan suci Ramadhan, vihara yang lain , Dhanagun menyediakan makanan bagi kaum muslim untuk bersama sama berbuka puasa. Di kota ini, gereja-gereja tua yang indah, berdiri di pusat kota tidak jauh dari masjid- masjid besar pusat aktivitas kaum muslim," kata Bima seperti keterangan tertulis yang diterima detikcom, Sabtu (7/11/2015).
Bima Arya membanggakan kehidupan masyarakat Kota Bogor

Bukan berarti potensi konflik yang mengatasnamakan agama tidak ada di Kota Bogor. Tetapi menurut Bima, adalah tugas seluruh masyarakat untuk saling menjaga kerukunan tersebut.

Semua pihak harus bisa mengantisipasi potensi konflik yang muncul. Perlu disadari bahwa sejak demokrasi semakin terbuka pada 1998, berbagai keragaman muncul.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Keberagaman yang semula berada dalam pikiran dan keyakinan menjadi kontestasi kekuatan yang dimanifestasikan dalam bentuk tindakan. Dalam kondisi seperti ini, persatuan menjadi sesuatu yang bukan saja diyakini tapi harus dikelola dengan baik dan tanpa henti," kata Bima.

Bima juga bercerita bagaimana sejak kecil dia dibesarkan oleh perbedaan. Dia lahir dari keluarga muslim, dan memiliki istri yang merupakan keturunan China. Bima mengenyam pendidikan di Universitas Katolik, tetapi menjadi dosen di Universitas Paramadina yang didirikan oleh alm Prof Nurcholish Madjid, Intelektual muslim yang dikenal dengan pemikirannya tentang demokrasi dan pluralisme.

"Saya yakin perbedaan adalah karunia Allah yang diberikan untuk menguji kita. Menjaga harmoni dan keseimbangan adalah tugas terberat seorang wali kota. Ada kalanya pilihan yang tersedia bukanlah pilihan ideal, sehingga wali kota harus mengambil tindakan dengan menghitung dampak kerusakan yang paling minimal dari kebijakan yang dipilih," tutur Bima.
Mengajak seluruh pemimpin di dunia untuk menjaga kerukunan dengan gotong-royong

Dia percaya bahwa persatuan yang bisa dinikmati saat ini adalah buah dari gotong royong para pemimpin terdahulu. Oleh karena itu dia mengajak seluruh wali kota yang hadir dalam acara tersebut untuk terus bergotong royong menjaga kerukunan.

Konferensi ini dihadiri sekitar 100 wali kota dari seluruh dunia yang berbagi pengalaman mengenai pengelolaan konflik dan menjaga keberagaman dan persatuan. Berbicara pula di forum ini beberapa pemenang nobel perdamaian seperti Dario Fo dan Tawakkol Karman yang merupakan aktivis perempuan dari Yaman.

(bag/bag)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads