"Pengakuannya belajar dari internet. Tersangka juga pernah bekerja di tempat pembuatan obat," kata Wakil Direktur Narkoba Bareskrim Polri, Kombes Nugroho Aji Wijayanto di Direktorat Narkoba Bareskrim Polri, Jl MT Haryono, Jakarta Timur, Jumat (6/11/2015).
Selama ini Yang mengaku meracik sendiri obat-obatan palsu yang diedarkannya. Ia juga membeli botol palsu yang bentuknya sangat mirip dan menempelinya dengan hologram yang hampir persis dengan obat aslinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Obat-obatan palsu yang diproduksi oleh Yang mengandung bahan yang berbahaya. Nugroho tak menyebutkan apa jenis bahan kimia yang dicampurkan, namun yang pasti, dampaknya akan membuat penderita justru semakin gatal.
"Kalau dipakai obatnya gatal di kulit. Jadi ini salep obat gatal, tapi kalau dipakai semakin gatal, bukanalah sembuh," katanya.
Yang mengaku sengaja memalsukan salep 88 karena selama bekerja di pabrik obat, ia melihat salep tersebut sangat laku. Ia akhirnya mencari alternatif bahan kimia yang lebih murah untuk dijual dengan label yang sangat mirip.
"Katanya salep itu yang paling laku di pasaran," tuturnya. (khf/fdn)











































