Sebenarnya Tak Berharap, Begini Respons Keluarga soal Gelar untuk Ki Bagus

Pahlawan Nasional

Sebenarnya Tak Berharap, Begini Respons Keluarga soal Gelar untuk Ki Bagus

Edzan Raharjo - detikNews
Jumat, 06 Nov 2015 16:39 WIB
Sebenarnya Tak Berharap, Begini Respons Keluarga soal Gelar untuk Ki Bagus
Foto: Edzan Raharjo/detikcom
Yogyakarta - Tokoh Muhammadiyah Ki Bagus Hadikusumo mendapat penganugerahan sebagai pahlawan nasional. Mantan Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini dikenal sebagai sosok yang teguh dalam memegang prinsip.

Cucu Ki Bagus Hadikusumo, Dr. Ir. Gunawan Budiyanto mengatakan bahwa gelar pahlawan nasional diusulkan oleh PP Muhammadiyah sejak 2012. Dan tahun 2015 pada 5 November kemarin resmi dianugerahi gelar pahlawan yang diserahkan oleh Presiden Joko Widodo kepada keluarga.

Gunawan Budiyanto, cucu Ki Bagus yang kini menjabat Wakil Rektor 1 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini menjelaskan Ki Bagoes pada masa Presiden Soeharto juga pernah mendapat penganugerahan Bintang Maha Putra pada tahun 1993. Penganugerahan sebagai pahlawan nasional ini untuk menekankan atas jasa-jasa Ki Bagoes pada BPUPKI (Badan Penyelidikan Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada tanggal 18 Agustuts 1945.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sebenarnya keluarga tidak terlalu berharap tentang gelar itu. Tapi karena beliau (Ki Bagus Hadikusumo) dalam posisi sebagai mantan ketua PP Muhammadiyah, maka dalam perspektif organisasi gelar itu menjadi penting. Perspektif keluarga kita tidak masalah, mau dikasih monggo, tidak juga tidak apa-apa," kata Gunawan Budiyanto di kampus UMY, Jumat (6/11/2015).


Ki Bagus merupakan salah satu anggota tim 9 yang ditugasi Presiden Soekarno merancang draft Pancasila. Tim menghasilkan rumusan salah satunya menjadikan azas Ketuhanan pada sila pertama yang sebelumnya ada di sila ke 5. Saat itu ada 7 kata pada sila pertama yaitu ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Hal ini menimbulkan permasalahan dan ancaman beberapa daerah akan keluar dari NKRI.

Karena permasalahan tersebut, Bung Hatta memanggil Ki Bagus untuk membicarakan kembali bunyi sila pertama Pancasila yang terdapat 7 kata tersebut. Negoisasi sangat alot, karena prinsip Ki Bagus yang kuat. Bung Hatta kemudian meminta Kasman Singodimejo sebagai teman dekat Ki Bagus di Muhammadiyah untuk melobi. Setelah itu, kemudian muncul kesepakatan untuk mengubah sila pertama Pancasila dari 7 kata itu menjadi Ketuhanan yang maha esa.

Ki Bagus juga berperan dalam penyusunan pembukaan UU Dasar 1945, sebelumnya ajuan draft pembukaan UUD 1945 yang diajukan Ki Bagus yaitu Mukaddimah UUD 1945. Karena kata Mukaddimah ini dianggap ke arab-araban kemudian diganti dan diputuskan menjadi pembukaan UUD 1945. (try/try)


Berita Terkait