Tindakan itu dibalas dengan aksi penembakan oleh tentara Israel kepada warga Palestina. Seperti apa sebenarnya 'gesekan' antara warga Palestina dengan Israel?
Akhir Oktober lalu, detikcom bersama lima jurnalis dari Indonesia dan Thailand berada di Israel atas undangan Australia/Israel&Jewish Affairs Council (AIJAC). Salah satu agendanya adalah bertemu dengan Wakil Gubernur Bethlehem Mohammed Taha pada Rabu 28 Oktober 2015 di kantornya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejumlah remaja pria nampak berkerumun di sudut jalan saat rombongan datang. Remaja yang berusia belasan hingga 20 tahun itu tak alergi dengan kehadiran orang asing.
Termasuk saat beberapa jurnalis mengambil gambar mereka. Syaratnya, tidak boleh mengambil gambar wajah dalam jarak dekat.
![]() |
Seratus meter dari kerumunan para remaja itu, dua anak kecil tampak membuang sampah. Mereka pun tersenyum ramah kepada kami. "What is your name, my name Jasmine," kata salah satu anak tersebut memperkenalkan diri dengan ramah.
Jasmin kemudian kembali ke rumahnya yang tak jauh dari lokasi pembuangan sampah. Sementara dari kerumunan remaja tadi, ada satu orang yang kemudian mengendarai motor meninggalkan lokasi. Namun belum sampai lima menit, dia melaju motornya dengan kecepatan tinggi kembali ke kerumunan rekan-rekannya.
"Israel..Israel!" teriak sang remaja itu kepada para rekannya.
Sontak belasan remaja itu mengambil sejumlah batu di dekat mereka bersiap mengadang tentara Israel. Suasana jalan satu arah itu pun semakin tegang saat ternyata dari arah berlawanan ada juga satu tentara Israel yang mencoba mendekat.
"Go...go..go. It's not save for us (Pergi..pergi. Ini tidak aman buat kita)," teriak sopir yang mengantar kami ke Aida Refugee Camp, Bethlehem.
![]() |
Kami pun meninggalkan Bethlehem. Pendiri sekaligus Direktur Palestinian Media Watch Itamar Marcus mengatakan, remaja-remaja Palestina memang seperti alergi dengan tentara Israel.
Itamar menyebut, hal ini dipicu oleh maraknya penyebaran paham untuk membenci Israel yang sering dipublikasikan baik melalui sejumlah media televisi di Palestina, lewat Twitter mau pun Facebook.
"Kebencian kepada Israel bahkan ditanamkan kepada anak-anak sejak kecil," kata Itamar yang merupakan warga Israel.
Sementara Wakil Gubernur Bethlehem Muhammed Taha menyebut bahwa sejumlah kerusuhan yang sering terjadi akibat adanya ketidakadilan bagi rakyat Palestina.
Taha mengaku banyak warga Palestina yang dihalang-halangi kesempatannya untuk memperolah pekerjaan, dan hidup secara layak. "Selesai sekolah warga kami banyak yang sulit mencari pekerjaan," kata Taha yang ditemui secara terpisah.
(erd/nrl)













































