Perjuangan Sastra Raja Badung VII yang Gugur di Perang Puputan

Pahlawan Nasional

Perjuangan Sastra Raja Badung VII yang Gugur di Perang Puputan

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Kamis, 05 Nov 2015 22:33 WIB
Perjuangan Sastra Raja Badung VII yang Gugur di Perang Puputan
Foto: Bagus Prihantoro Nugroho/detikcom
Jakarta - Raja Badung VII I Gusti Ngurah Made Agung kini dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional. Perjuangan Raja Badung VII tersebut memang layak menjadi contoh, karena justru bukan mengedepankan kekerasan.

"Beliau punya hasil sastra, hasil sastra banyak berapa buku itu hasil sastranya banyak. Buku-buku ada. Belum pernah metode perang seperti itu di dunia," tutur cicit dari Raja Badung VII, Anak Agung Ngurah Oka Ratmadi di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Kamis (5/11/2015).

Karya sastra yang dimaksud adalah Geguritan Dharma Sasana, Geguritan Niti Raja Sasana, Geguritan Nengah Jimbaran, Kidung Loda, Geguritan Purwasensara, Kakawin Atlas, serta Geguritan Hredaya Sastra. Sastra-sastra itu juga ditulis dalam tulisan latin berbahasa Melayu, meski Bali memiliki bahasa dan tulisan sendiri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Oka Ratmadi, atau akrab disapa Cok Rat, menyebut kakek buyutnya itu sudah bervisi untuk menyebarkan karya sastranya ke seluruh nusantara. Ada pun isi dari karya-karya beliau berisi kata-kata penyemangat perjuangan.

Raja Badung VII juga menolak perjanjian Kuta antara raja-raja Bali dengan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda yang ditandatangani pendahulunya tanggal 13 Juli 1849. I Gusti Ngurah Made Agung menilai perjanjian itu merugikan kemerdekaan kerajaan-kerajaan di Bali.

Pada tahun 1904, Belanda memanfaatkan terdamparnya kapal Sri Kumala yang berbendera Belanda untuk menyerang Badung. Belanda menuduh Badung telah merampok kapal dagang tersebut.

Sejak itu pemerintahan kolonial terus melakukan serangan terhadap Badung, mulai dari blokade ekonomi sampai dengan invasi pasukan. Raja Badung VII tak menyerah hingga akhirnya dia gugur dalam perang Puputan Badung pada 20 September 1906.

"Kami di Badung hanya dijajah Belanda kurang lebih 40 tahun, dari 1906 sampai 1945," tutur Cok Rat.

Pelajaran yang ingin disampaikan leluhurnya itu yakni jangan menyerah terhadap serangan penjajah. Indonesia pun begitu, ketika sudah merdeka tahun 1945 tetapi terus menginspirasi bangsa lain untuk merdeka.

"Saya ingat salah satu karya sastra beliau, 'saya suka melihat banyak orang kaya, tetapi bukan kaya karena mencuri'," ungkap Cok Rat. (bag/rvk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads