"Beliau punya hasil sastra, hasil sastra banyak berapa buku itu hasil sastranya banyak. Buku-buku ada. Belum pernah metode perang seperti itu di dunia," tutur cicit dari Raja Badung VII, Anak Agung Ngurah Oka Ratmadi di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Kamis (5/11/2015).
Karya sastra yang dimaksud adalah Geguritan Dharma Sasana, Geguritan Niti Raja Sasana, Geguritan Nengah Jimbaran, Kidung Loda, Geguritan Purwasensara, Kakawin Atlas, serta Geguritan Hredaya Sastra. Sastra-sastra itu juga ditulis dalam tulisan latin berbahasa Melayu, meski Bali memiliki bahasa dan tulisan sendiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Raja Badung VII juga menolak perjanjian Kuta antara raja-raja Bali dengan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda yang ditandatangani pendahulunya tanggal 13 Juli 1849. I Gusti Ngurah Made Agung menilai perjanjian itu merugikan kemerdekaan kerajaan-kerajaan di Bali.
Pada tahun 1904, Belanda memanfaatkan terdamparnya kapal Sri Kumala yang berbendera Belanda untuk menyerang Badung. Belanda menuduh Badung telah merampok kapal dagang tersebut.
Sejak itu pemerintahan kolonial terus melakukan serangan terhadap Badung, mulai dari blokade ekonomi sampai dengan invasi pasukan. Raja Badung VII tak menyerah hingga akhirnya dia gugur dalam perang Puputan Badung pada 20 September 1906.
"Kami di Badung hanya dijajah Belanda kurang lebih 40 tahun, dari 1906 sampai 1945," tutur Cok Rat.
Pelajaran yang ingin disampaikan leluhurnya itu yakni jangan menyerah terhadap serangan penjajah. Indonesia pun begitu, ketika sudah merdeka tahun 1945 tetapi terus menginspirasi bangsa lain untuk merdeka.
"Saya ingat salah satu karya sastra beliau, 'saya suka melihat banyak orang kaya, tetapi bukan kaya karena mencuri'," ungkap Cok Rat. (bag/rvk)











































