Menristek Dikti: Kualitas SDM Jadi Kendala Sektor Pendidikan di Perbatasan

Menristek Dikti: Kualitas SDM Jadi Kendala Sektor Pendidikan di Perbatasan

Hardani Triyoga - detikNews
Kamis, 05 Nov 2015 12:19 WIB
Menristek Dikti: Kualitas SDM Jadi Kendala Sektor Pendidikan di Perbatasan
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir mengatakan ada beberapa tantangan dalam menyiapkan sumber daya manusia seperti tenaga pengajar di daerah perbatasan. Ia berpendapat perlu dilihat modal kemampuan yang sudah dimiliki Indonesia.

Nasir menyebut ada beberapa tantangan yang dimaksud seperti di antaranya ketimpangan kesejahteraan serta daya saing bangsa masih lemah.

"Saya ingin mencoba satu pemahaman untuk menyiapkan sumber daya manusia. Kalau kita perhatikan, kalau ingin menyiapkan maka kita harus lihat sumber daya manusia itu sendiri. Ada tantangan kemiskinan, ketimpangan kesejahteraan, pengangguran, kebodohan dan keterbelakangan, dan daya saing bangsa masih lemah," ujar Nasir dalam sambutannya di seminar nasional Pendidikan Agama di Wilayah Perbatasan di Kementerian Agama, Jl MH. Thamrin, Jakarta, Kamis (5/11/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk menyiapkan sumber daya manusia tentunya punya bekal dari latar belakang pendidikan tinggi. Namun, harus diakui daya saing perguruan tinggi di dalam negeri masih sedikit. Menurutnya hanya beberapa universitas seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Indonesia (UI) yang masuk peringkat 500 dunia.

Sementara, dari mutu masih banyak program studi yang belum memenuhi standar nasional pendidikan tinggi. Ada beberapa persoalan lain yang mesti diperbaiki seperti Angka Partisipasi Kasar harus ditingkatkan dengan penambahan fasilitas, perbaikan metodologi, dan penambahan jumlah universitas.

"Publikasi internasional dosen masih minim. APK (Angka Partisipasi Kasar, red) masih perlu ditingkatkan. Masih ada kesenjangan APK antar daerah. Sedikit sekali hasil penelitian perguruan tinggi yang bermanfaat bagi masyarakat. Dan banyak sarjana yang menganggur," tuturnya. (hty/aan)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads