Ceramah di Jepang, Din Syamsuddin Bicara Masalah Kerukunan Umat Beragama

Ceramah di Jepang, Din Syamsuddin Bicara Masalah Kerukunan Umat Beragama

Nur Khafifah - detikNews
Rabu, 04 Nov 2015 23:11 WIB
Ceramah di Jepang, Din Syamsuddin Bicara Masalah Kerukunan Umat Beragama
Foto: ist
Jakarta - Pada akhir kunjungan di Jepang, Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin berceramah di Markas Sasakawa Peace Foundation, Tokyo. Ceramah dihadiri seratus tokoh dari berbagai kalangan baik tokoh agama, akademisi, mahasiswa, profesional, pengusaha, dan umum.

Dalam siaran pers kepada detikcom Selasa (4/11/2015), Ceramah yang bertajuk "Masalah, Tantangan dan Masa Depan Islam di Indonesia" itu menjelaskan bahwa Islam di Indonesia memiliki watak berbeda dengan Islam di negeri-negeri lain termasuk Timur Tengah, disebabkan oleh modus masuknya Islam secara damai dan latar sosial-budaya masyarakat Indonesia yang cinta damai.

Sebagai akibatnya, Islam di Indonesia berwatak damai, moderat, inklusif, toleran, dan anti-kekerasan. Watak ini dianut oleh mayoritas mutlak umat Islam dan telah berlansung berabad lamanya. Maka hampir dapat dikatakan, sejak dulu tidak ada ketegangan dan pertentangan serius antara Muslim dan non-Muslim dan juga antara sesama Muslim. Indonesia sejak dikenal sebagai model kerukunan hidup, baik antar umat beragama maupun intra umat satu agama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun akhir-akhir  ini, suasana demikian sedikit berubah dengan adanya ketegangan bahkan konflik antar kelompok umat beragama, khsususnya antara kelompok Muslim dan Kristiani, seperti terjadi terakhir di Tolikara, Singkil, dan Manokwari. Hal ini, menurut Din, disebabkan oleh bergesernya tata nilai yang dianut oleh sebagian masyarakat Indonesia sejalan dengan modernisasi, globalisasi, dan liberalisasi yang melanda Indonesia sejak satu dua dasawarsa terakhir.

Dalam kaitan ini, menurut Din, radikalisme keagamaan yang muncul di Indonesia didorong oleh faktor keagamaan dan faktor-faktor non agama. Yang pertama mengambil bentuk pemahaman yang salah akibat penafsiran sempit teks-teks Kitab Suci dengan mengabaikan misi utama Islam untuk kerahamatan dan kesemestaan, dan yang kedua berupa ketdkadilan sosial, ekonomi dan politik yang sering menjadi faktor picu kekerasan dan sikap radikal dan agama menjadi faktor pembenar sikap tersebut.

Ceramah Din mendapat sambutan antusias audiens dengan banyaknya pertanyaan. terhadap pertanyaan tentang ISIS, Din tegaskan bahwa ideologi dan perilaku ISIS tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam yang menekankan kasih sayang dan perdamaian. ISIS bukan gerakan Islam tapi gerakan politik yang menyalahgunakan Islam untuk tujuan politik.

Ikut hadir Prof. Nakamura dan isteri, Prof. Hisae Nakanishi dari Doshisa University, Prof. Khalid Higuchi, mantan Presiden Japanese Muslim Association, sejumlah peminat dan pengamat tentang Indonesia, dan para pejabat Sasakawa Peace Foundation seperti Dr. Chano dan Dr. Akiko Horiba.

Din Syamsuddin yang adalah Ketua Dewan Pertimbangan MUI ini berkunjung ke Jepang selama delapan hari atas undangan Sasakawa Peace Foundation, sebuah yayasan Jepang yang terkenal di mancanegara dan aktif mendorong perdamaian di dunia. SPF mulai tahun laku mengundang tokoh-tokoh dari luar Jepang dalam program kunjungan Asia's Opinion Leaders. Tahun lalu diundang mantan Sekjen Asean Dr. Surin Pitsuwan dari Thailand, dan tahun ini tokoh Muslim Indonesia Din Syamsuddin.

Dalam kunjungannya ke Jepang kali ini, Din Syamsuddin yang juga Presiden Asian Conference of Religions for Peace (ACRP) yang berpusat di Tokyo, mengunjungi Horoshima, Miyajima, Kurainiki, Kyoto, Kobe, dan Tokyo.

Di Hiroshima Din berkesempatan meletakkan karangan bunga di Peace Memorial Park, di Kyoto mengunjungi beberapa pusat Agama Shinto dan Agama Budha, Di Kobe dan Tokyo berkunjung ke Jami Mosque (masjid), dan juga berdialog dengan para tokoh agama maupun politik Jepang.

Dari kunjungannya tersebut, Din mengagumi masyarakat Jepang yang dinilainya mengamalkan nilai-nilai Islam seperti kebersihan, kejujuran, kedisiplinan, penghargaan akan waktu, dan kerja keras. Nilai-nilai tersebut justeru sering tidak nyata dalam perilaku sebagian umat Islam di negara-nilai Muslim. Pada sisi lain, ceramah dan dialog Din Syamsuddin dengan pihak Jepang sedikit banyak dapat mengisi kekosongan pemahaman masyarakat Jepang tentang Islam di Indonesia. (khf/rvk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads