"Kalau untuk illegal fishing di wilayah barat itu di Natuna juga daerah barat Sumatera di Samudra Hindia. Kemudian agak ke tengah itu di selatan Jawa dan utara Sulawesi," kata Kepala Bakamla Laksamana Madya Maritim Desi A. Mamahit di kantor Bakamla, Jl Dr Sutomo, Jakarta Pusat, Rabu (4/11/2015).
Sebagian besar kapal-kapal itu dari negara tetangga. Selain itu ada juga yang beroperasi di laut Arafura, laut Banda dan utara Papua. Karena itu, penjagaan atas wilayah perairan terus ditingkatkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain kapal ikan, kapal tanker illegal juga banyak di laut Indonesia. Wilayah yang paling banyak didiami yakni perairan sekitar Kepulauan Riau.
Mamahit menyebutkan, pemberantasan kapal tanker di sekitar wilayah Kep. Riau tidak mudah dilakukan. Pasalnya di wilayah itu bak menjadi teritori sindikat dari dalam dan luar negeri.
"Daerah situ (Kepri) banyak sindikat. Banyak kasus krunya ada orang Indonesia, ada yang dari negara tetangga. Tapi mastermindnya dari negera tetangga," ucapnya.
"Karena itu, komunikasi dengan polisi air dari negara tetangga juga kita tingkatkan," sambung Mamahit
Ia mengakui saat ini seluruh instansi yang memiliki kewajiban menjaga perairan Indonesia terus berupaya dibuat terpadu dan bersinergi. Hal ini agar keinginan pemerintah untuk menjadi yang terdepan di bidang kemaritiman bisa terwujud. (mnb/rvk)











































