Terbaru, peristiwa berdarah terjadi di Jl Ciriung, Cibinong, Bogor, pada Selasa 3 November sekitar pukul 16.30 WIB. Japra (40) tewas ditembak Serda YH, anggota Kostrad Cilodong gara-gara menyerempet mobilnya. YH mengejar Japra. Namun ternyata Japra tak mau berhenti ataupun meminta maaf. Mereka beradu mulut dan YH menembak kepala Japra.
Peristiwa penembakan juga dialami sopir taksi Express Rahmat. Ia kaget bukan kepalang saat bagian bemper taksi ditembak pengendara Land Cruiser B 1 WTO. Kepala Rahmat lalu ditodong pistol. Rahmat mengaku tidak menyerempet mobil Land Cruiser. "Kamu sopir saja belagu!" ucap pengemudi Land Cruiser itu. Pengemudi itu lalu berlalu meninggalkan Rahmat yang kebingungan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rahmanto mengakui perbuatannya. Saat itu, ia akan pergi untuk latihan menembak, namun tidak keburu waktu. "Maksud saya mau sekalian latihan nembak, tapi tidak keburu. Ngantuk, lapar, semua campur aduk, pengin cepat pulang," ujar Rahmanto.
Berikut 3 kisah itu:
1. Oknum Kostrad Tembak Japra
|
Foto: Istimewa
|
Penembakan berawal saat Serda YH kesal karena korban memacu motornya secara ugal-ugalan. Japra juga sempat menyerempet mobil Serda YH yang sebelumnya sudah memberi peringatan dengan membunyikan klakson.
Saat di TKP, keduanya sempat beradu mulut. Serda YH lalu mengeluarkan pistol dan tiba-tiba peluru meletus hingga melubangi dahi korban yang tewas seketika. KSAD Jenderal Mulyono sendiri sudah memerintahkan agar kasus ini diproses sesuai dengan aturan yang berlaku.
Tindakan Serda YH menembak pemotor di Cibinong sungguh tak bisa dibenarkan. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo pun memerintahkan pengadilan militer yang terkait sipil terbuka untuk umum.
"Saya perintahkan untuk diproses secara hukum yang berlaku, di POM dan penyidikan. Kemudian saya akan membuatkan ST (Surat Telegram) bahwa sekarang kejadian-kejadian TNI yang berkaitan dengan masyarakat, sidang militernya terbuka!" ujar Panglima di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Rabu (4/11/2015).
2. Taksi Express
|
Foto: Grandyos Zafna
|
Dalam keterangan persnya, pihak Express Group membenarkan telah terjadi penembakan terhadap unit taksi Express dengan nomor polisi B 1698 KTH dan nomor pintu JFA 117 di Mampang, Jakarta Selatan, pada Senin (26/10) sekitar pukul 05.30 WIB.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Mohammad Iqbal memastikan pihaknya masih menyelidiki kasus tersebut.
"Sedang dilidik. Sampai saat ini ada nomor polisi yang menurut saksi yang patut dipercaya diduga itu pelakunya," kata Iqbal kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (29/10/2015).
Menurutnya, polisi sudah menemui pemilik mobil yang dimaksud oleh sopir taksi. Namun belum ada titik terang hingga kini.
"Kita sudah datang dan mintai keterangan tapi belum tentu milik A, mungkin sudah pindah tangan," kata Iqbal.
3. Koboi Beraksi di JORR
|
Foto: Edward
|
Setelah insiden itu, mobil Dwi memberikan lampu sebagai tanda cara menyetir mobil merah itu membahayakan. Akhirnya mereka pun dalam posisi sejajar, dan di situlah Dwi mendengar bunyi benturan yang diikuti dengan kaca mobil yang retak. Ternyata mereka ditembak. Pelaku penembakan kabur.
Rahmanto penembak mobil keluarga di tol JORR, Ceger, Jakarta Timur mengaku salah atas perbuatannya."Maksud saya mau sekalian latihan nembak, tapi tidak keburu. Ngantuk, lapar, semua campur aduk pengin cepat pulang," ujar Rahmanto disela-sela rilis kasus penembakan mobil keluarga di Tol JORR, Kamis (30/7/2015).
Rahmanto menyadari air soft gun tak boleh dibawa keluar dengan sembarang. Dia beralasan selama ini senjata tersebut disimpan di dalam mobil. "Ini kelalain saya. Selama ini saya letakkan di dalam mobil, nggak pernah dibawa turun dari dalam mobil," paparnya.
"Saya akui salah, saya tidak ada niat mencelakai. Saya cuma mau mengingatkan saja. Untuk latihan saja, nembak jadwalnya memang fleksibel," tambahnya.
Halaman 2 dari 4










































