"Aku enggak bisa beraktivitas. Aku harus mengorbankan waktu untuk jalan kaki sampai depan kompleks. Seharusnya kalau mereka bijak, dikasih akses," kata Deni ditemui di rumahnya, Selasa (3/11/2015).
Celah yang dibuat warga ini hanya bisa dilewati 1 orang. Di bagian bawahnya pun dibuat undakan sehingga tak bisa dilalui sepeda motor.
Celah ditembok depan rumah Deni |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak cuma Deni yang kesusahan ke kantor, istrinya pun terpaksa ke kantor dengan menggunakan taksi. Padahal mereka seharusnya bisa menggunakan mobil pribadi miliknya.
"Kalau dengan mobil, bisa berangkat bareng. Dengan ini menghabiskan banyak biaya karena naik taksi. Biasanya naik mobil sejam, kalau taksi bisa 2 jam," sambungnya.
Karena kisruh ini tak kunjung selesai, ia pun terpaksa harus berkantor di rumah. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai tenaga IT perusahaan swasta ini meminta izin pada rekan sekantornya untuk bekerja di rumah selama 1 bulan ini.
"Saya harus ada di rumah. Saya merasa tidak aman kalau begini (ribut dengan warga). Kesannya saya penjahat karena ada konflik dengan warga," sambungnya.
Kini, mobil Sirion putih miliknya hanya terparkir di garasi. Ia pun memilih tinggal di rumah sambil terus mengupayakan mediasi dengan warga.
Tembok ini dibangun warga secara sengaja dibangun untuk membedakan lingkungan kompleks. Alasannya rumah milik Deni Akung disebut berdiri di luar dari batas wilayah tanah kompleks Bukit Mas Bintaro.
"Waktu sedang membangun juga sudah ada tembok. Tembok itu fungsinya untuk membedakan tanah yang di dalam dan di luar kompleks," ujar perwakilan warga, Rena.
Hingga kemarin malam, mediasi antara warga dan Deni masih terus dilakukan. Namun belum ditemukan kata solusi terbaik untuk permasalahan ini.
"Saya akan selalu upayakan mediasi dengan warga," pungkas Deni. (mnb/dra)












































Celah ditembok depan rumah Deni