Hal itu disampaikan saat menjadi pembicara di acara diskusi dengan tema 'Semangat Radikalisme, Sumpah Pemuda & Masa Depan NKRI' yang digelar Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) di Surabaya, Minggu (1/11/2015).
"Dengan semangat sumpah pemuda, hendaknya semua elemen tanpa memandang suku dan ras untuk saling bergandeng tangan dalam menangkal radikalisme," ujar Andi Widjajanto.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mencontohkan kasus Tolikara di Papua dan Singkil di Aceh. Katanya, seharusnya semua pihak ikut menangkal aksi tersebut tanpa ada sikap diskriminasi.
Menurutnya semua pihak termasuk organisasi massa terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, yang memiliki kekuatan besar dan ikut andil menjaga NKRI, bersama dengan elemen lainnya menangkis radikalisme.
"Dengan semangat sumpah pemuda ini butuh seorang pelopor yang dapat menggugah kembali semangat pemuda, tanpa memandang perbedaan. Dimana kita bersumpah di sini adalah saudara," tegasnya sambil menambahkan, saat ini banyak yang berteriak tanpa memberikan solusi. Ada yang berpikir baik, akan tetapi tidak melakukan action hanya diam saja.
"Seharusnya para pemuda berdiri di tengah-tengah untuk bekerja dan merawat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini, dan bersama-sama melawan kelompok-kelompok radikal yang mencoba merusak bangsa yang kita cintai ini," tandas pria yang juga pengamat intelijen ini.
Ia menambahkan, keberadaan partai politik seharusnya mampu merangkul semua golongan, agar tidak ada lagi diskriminasi terhadap golongan minoritas.
"Dengan kondisi seperti itu, hubungan sosial dapat ditegakkan dan sistem pemerintahan dapat dijalankan dengan baik, agar kepentingan masyarakat dapat terlindungi," jelasnya.
(roi/Hbb)











































