"Saya bersama Pak Ical menyatakan untuk terus mendukung pemerintahan Jokowi-JK secara terus. Dukungannya adalah loyal kritis, loyal tapi terbuka ruang untuk koreksi, saya kira sepanjang konstruktif dan membangun, terbuka (terhadap kritik)," kata Agung dalam pidatonya di acara Silatnas di DPP Golkar, Slipi, Jakarta Barat, Minggu (1/11/2015).
Setelah 11 bulan berseteru, Agung dan Ical sepakat bersatu. Putusan MA yang mengembalikan kepengurusan DPP Golkar yang sah ke Munas Riau dan tujuan bersama untuk memenangkan pilkada serentak menjadi alasan utama untuk islah.
"Lobi politik sudah mulai dilakukan saya dengan Pak Ical satu kali di suatu tempat yang difasilitasi Pak Hidayat. Akan disusul pertemuan-pertemuan berikutnya," jelas Agung yang mengenakan kemeja kuning ini.
"Tidak ada kepengurusan yang disahkan MA. Maka jalur perdamaian sangat diharapkan. Perselisihan kepengurusan harus diselesaikan secara tuntas. Kita jadikan sebagai titik balik yang bermuara ke Munas nasional," tegas Waketum Golkar versi Munas Riau itu.
Usai Agung berpidato, giliran Wapres Jusuf Kalla yang menyampaikan pidatonya. JK memang disebut-sebut sebagai tokoh yang paling berpengaruh untuk mengawali islah Golkar yang tak lain merupakan partai yang pernah dipimpinannya. (Hbb/imk)











































