Di Silatnas, Yorrys Paparkan Peran JK dan Luhut Selamatkan Golkar

Di Silatnas, Yorrys Paparkan Peran JK dan Luhut Selamatkan Golkar

Hardani Triyoga - detikNews
Minggu, 01 Nov 2015 20:44 WIB
Di Silatnas, Yorrys Paparkan Peran JK dan Luhut Selamatkan Golkar
Foto: Rina Atriana/Detikcom
Jakarta - Waketum Golkar hasil Munas Riau, Yorrys Raweyai, memaparkan perjalanan panjang menyatukan kembali Partai Golkar. Perjalanan itu mulai dari islah sementara, Tim 10, hingga persiapan menjelang Silatnas Golkar.

Yorrys memulai sambutannya dengan memuji dua sesepuh Golkar yang hadir yaitu Wapres Jusuf Kalla dan Menko Polhukam Luhut Binsar Pandjaitan. Komunikasi menjadi salah satu kunci untuk mempersatukan partai beringin.

"Dua tokoh ini banyak memberikan inspirasi dalam rangka kemajuan bangsa. Persoalan Golkar ini bukan persoalan baru, persoalan Golkar ini mengalami perpecahan sejak melaksanakan Mukernas, berangkat dari situ kami komunikasi dengan JK," kata Yorrys saat Silatnas di Kantor DPP Golkar, Slipi, Jakarta Barat, Minggu (1/11/2015) malam.

JK disebut memberi kepercayaan bagi banyak pihak yang memang ingin mempersatukan Golkar. "Beliau punya  prinsip, idealisme. Beliau memberikan apresiasi sebagai inspirator untuk mendorong," sambungnya.

Selain itu, Yorrys juga memuji peran Luhut. Luhut yang awalnya menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Golkar mundur dari jabatannya saat menyatakan dukungan ke Jokowi-JK.

"Yang terhormat Bapak Menko Pulhukam, Luhut Binsar Panjaitan, beliau sebagai Wakil Ketua Dewan Pertimbanagan Golkar, beliau meninggalkan jabatan itu. Tapi, sebagai seorang patiotis, beliau selalu memotivasi kita," ucap Yorrys.

Dia juga memuji peran senior-senior Golkar lain seperti Fahmi Idris dan Akbar Tandjung. Ada pula tokoh yang tergabung di Tim 10.  

"Saya sampaikan kepada Pak JK, terima kasih ini sudah siap, 238 calon kepala daerah. Kami koordinasikan untuk mencari terobosan-terobosan, untuk memulai persatuan, untuk meninggalkan ego-ego," kata anggota DPR 2009-2014 ini. Dia menyebut perbedaan Agung dan Ical hanya perbedaan politik atau prinsip saja. (imk/nrl)


Berita Terkait