Milan - Negara tetangga Malaysia juga ikut tampil di Milan World Expo 2015. Salah satu yang disajikan dalam pameran yang berlangsung selama 6 bulan tersebut adalah rendang.
Saat detikcom mengunjungi Paviliun Malaysia, Jumat (30/10/2015) petang waktu setempat, rendang menjadi menu spesial di hari tersebut. Menurut sang pelayan, paket nasi putih rendang yang dijual seharga 10 euro tersebut memang tidak dijual setiap hari. Yang menjadi sajian rutin adalah nasi lemak, roti cane, dan sate ayam.
Rendang juga disajikan di Paviliun Indonesia. Bedanya dengan Malaysia, rendang dimasukkan ke dalam menu buffet seharga 20 euro. Pengunjung dapat menikmati rendang dilengkapi dengan setidaknya dua lauk lainnya. Misalnya tahu kalio dan garang asam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Chef Meiling dari Desa Restaurant yang berbasis di Belanda dan Chef Ali Muhajar dari Pulau Seribu menuturkan bedanya rendang yang menjadi menu di kedua negara. "Malaysia rendang khasnya dengan bumbu kari. Beda dengan Indonesia. Kita tidak memakai kari. Rasanya otentik dengan bumbu yang biasa dipakai di Indonesia. Bumbunya kita bawa dari Belanda. Di sana memang banyak bumbu dari Indonesia," kata Chef Meiling yang disambut anggukan Chef Ali. Keduanya tergabung di tim kuliner Paviliun Indonesia.
Menu lainnya yang juga serupa adalah sate ayam. Di Paviliun Malaysia, satu porsi berisi empat tusuk sate dijual dengan harga 6 euro. Di Paviliun Indonesia, harganya 5 euro untuk satu porsi isi dua tusuk sate dan lontong. Meski lebih sedikit, namun ukuran potongan dagingnya terbilang jumbo. Bisa dua-tiga kali ukuran potongan daging sate yang dijual di Indonesia.
"Di sini biasa makan porsinya besar. Mereka mau langsung kenyang," tutur Chef Meiling. Chef Ali menambahkan, pembuatan sate dengan ukuran daging besar merupakan bagian dari strategi. Termasuk juga mengapa sate yang dijual adalah hasil dipanggang di oven, bukan dibakar menggunakan arang.
Setidaknya 1500 tusuk sate terjual setiap harinya di Paviliun Indonesia. Jumlah yang banyak berarti tenaga yang dibutuhkan untuk menggarapnya pun tak sedikit. Waktu juga menjadi perhatian. Untuk menyiapkan 800 tusuk sate, waktu yang dibutuhkan sekitar 8 jam.
"Akhirnya kami minta bantuan warga Indonesia di Italia. Ibu-ibu penusuk sate," ucap Chef Ali sambil tertawa.
(inn/faj)