Seorang seniman akan tetap hidup dalam setiap karya yang diciptakannya
Terima kasih untuk semua senyum tawa dan kenangan yang kau berikan
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Ine Yordenaya/detikcom |
Enam bulan sudah Paviliun Indonesia berdiri di ajang Milan World Expo 2015. Dengan segala kontroversinya, Paviliun Indonesia berhasil menyedot masuk hampir 4 juta pengunjung. Mereka berkeliling ruangan, menghirup wangi rempah, menikmati alunan suara angklung dan merasakan lezatnya nasi goreng dan sate ayam.
Adalah almarhum Didi Petet, sosok di balik terselenggaranya Paviliun Indonesia. Maka tak heran, di syukuran jelang penutupan Paviliun Indonesia, Jumat (30/10/2015) malam, puluhan mata berkaca-kaca mengingat jasa sang seniman yang meninggal dunia bulan Mei 2015 lalu, hanya beberapa hari setelah Paviliun Indonesia resmi dibuka.
Tak terkecuali Tomy Winata yang hadir mengenakan kemeja batik kesayangan Didi Petet.
Foto: Ine Yordenaya/detikcom |
"Saya rasa pencapaian ini enggak lepas dari mimpi beliau. Membawa nama Indonesia di panggung dunia. Mudah-mudahan di alam sana beliau menyaksikan apa yang kita lakukan," ujarnya.
Menurut Tomy yang lewat grup Artha Graha menjadi sponsor utama Paviliun Indonesia, kemeja tersebut diberikan istri Didi Petet Uce Sriasih saat berkunjung ke Paviliun Indonesia pertengahan Oktober 2015.
"Ada kenang-kenangan dari keluarga yang merupakan barang kesayangan. Beliau titip pesan, mudah-mudahan saya berkenan memakai. Saya bilang, pada acara selamatan penutupan pasti saya pakai," ujar pengusaha kelahiran 1958 itu.
Keberanian Didi Petet mengajukan diri sebagai pengelola Paviliun Indonesia, di saat pemerintah menolak menggelontorkan dana, perlu diapresiasi. Dari 147 negara yang ikut ajang pameran kelas dunia ini, hanya Indonesia dan Amerika Serikat yang tidak menggunakan dana negara dalam penyelenggarannya. "Bagi Mas Didi Petet, ajang ini seperti panggilan untuk mengabdi pada negara," tutur Direktur Paviliun Indonesia Budiman Muhammad.
Puluhan anak bangsa yang enam bulan kerja keras mengelola Paviliun Indonesia juga perlu diacungi jempol. Tak henti mereka memutar otak, bagaimana caranya bisa menarik sebanyak-banyaknya pengunjung ke dalam paviliun. Bagaimana pengunjung yang hadir dapat menerima suguhan apik. Bagaimana pengunjung dapat terkesan sehingga nama Indonesia harum dan ada niatan mereka untuk berkunjung ke tanah air dan menghasilkan devisa.
Pekerjaan kasar pun tak terlewat mereka lakukan. "Di sini kami semua mengerjakan yang bisa kami lakukan. Saya di sekretariat juga kebagian urusan bersih-bersih. Dari bawah sampai atasan pasti kena giliran cuci piring," ujar Katherine yang terbang dari Jakarta ke Milan pada Agustus lalu dan belum pulang sampai penghujung Oktober ini.
Hampir 90 karyawan Artha Graha diterbangkan bergiliran dari Jakarta ke Milan. Mereka ditugaskan menjalankan operasional paviiun Indonesia. Ada yang menetap selama dua bulan, ada juga yang lebih dari enam bulan belum menginjakkan kaki kembali ke Indonesia.
Yenny Wahid, putri presiden RI ke-4, KH. Abdurahman Wahid yang juga Direktur Wahid Institute, juga mengapresiasi kerja keras mereka. "Paviliun Indonesia dengan segala kehebohan awalnya berkat kegigihan akhirnya menjadi sukses. Sebetulnya ini adalah simbol dari keuletan bangsa Indonesia. Ketika nama bangsa terancam, kita bangkit untuk membela. Bangkit," ujar Yenny saat ditemui detikcom di acara syukuran penutupan Paviliun Indonesia Milan Expo, Jumat (30/10/2015) malam waktu setempat.
Yenny Wahid mengaku hadir di acara untuk memberikan support terhadap semua yang terlibat menyukseskan Paviliun Indonesia. Turut hadir juga di acara tersebut Duta Besar Indonesia untuk Italia August Parengkuan, Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan Nus Nuzulia Ishak, mantan Kepala BNN yang juga dewan pelindung Artha Praha Gorris Mere, dan seniman sekaligus pendiri Museum Rekor Indonesia Jaya Suprana. Awalnya Menteri Perdagangan Thomas T Lembong dijadwalkan hadir. Namun Mendag membatalkannya pada H-1 karena ada pertemuan mendadak dengan Presiden Jokowi.












































Foto: Ine Yordenaya/detikcom
Foto: Ine Yordenaya/detikcom