3 Hal Unik Kasus Leopard, Bomber Mal Alam Sutera

3 Hal Unik Kasus Leopard, Bomber Mal Alam Sutera

Mei Amelia R - detikNews
Jumat, 30 Okt 2015 08:25 WIB
3 Hal Unik Kasus Leopard, Bomber Mal Alam Sutera
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Tim gabungan Densus 88 Polri bersama Polda Metro Jaya berhasil menangkap pelaku pengeboman Mal Alam Sutera hanya dalam tempo 2 jam setelah terjadi ledakan, Selasa (28/10). Tersangka Leopard Wisnu Kumala (29) ternyata tidak terkait dengan jaringan terorisme yang selalu diidentikkan dengan aksi teror bom.
Β 
Kapolda Metro Jaya Irjen Tito Karnavian mengatakan ada hal unik di balik kasus ini. Salah satunya yakni aksi serangan teror yang dilakukan tersangka yang merupakan lone wolf.
Β 
"Kasus ini dibanding kasus bom Bali dan sebelumnya, relatif kecil. Tapi, ada beberapa hal unik," terrang Irjen Tito di Polda Metro Haya, Kamis (29/10/2015) kemarin.
Β 
Lalu apa hal unik dari kasus ini? Berikut penjelasan Irjen Tito.

1. Aksi Lone Wolf dengan Motif Pemerasan

Foto: Grandyos Zafna
Mantan Kadensus 88 Polri ini mengatakan, tersangka yang merupakan ahli IT itu sama sekali tidak terkait dengan jaringan teroris yang sudah terpetakkan selama ini. Tersangka merupakan pelaku tunggal yang melakukan aksinya untuk memeas pengelola Mal Alam Sutera.
Β 
"Pertama, pelaku tidak terkait dengan jaringan teror yang telah dipetakan polisi. Pelaku adalah pelaku tunggal, dan motifnya bukan rangka ideologi, tapi ekonomi untuk melakukan pemerasan untuk mendapatkan uang," kata Tito.
Β 
Aksi teror tunggal ini dikenal dengan istilah lone wolf yang melakukan aksinya seorang diri dan tidak terorganisir untuk melakukan teror. Kapolda juga menyebut aksi pelaku sebagai leaderless jihad.
Β 
"Di dunia dikenal lone wolf. Ada jaringan teror yang dikenal atas nama kelompok, dan ada jihad tanpa pemimpin, yaitu tiap orang orang yang melakukan perbuatan teror, inovasi sendiri dan melakukan perbuatan sendiri. Itu disebut leaderless jihad atau lonewolf," jelas Tito.
Β 
Tito mengatakan, aksi lone wolf sulit diungkap karena memang tidak memiliki kelompok tertentu yang selama ini sudah terpetakan oleh aparat polisi. Untuk diketahui, aksi Leonard dilakukan beberapa kali pada Juli dan Oktober 2015, dan naru tertangkap setelah aksi terakhir 28 Oktober lalu.
Β 
"Serigala biasa berkolompok mendapatkan mangsa, nah ini dia kerja sendiri. Itu di dunia barat fenomena penting dan sulit diungkap. Ini dilakukan sendiri tapi bukan dalam rangka ideologi. Tapi lebih banyak ekonomi," paparnya.
Β 
Sebagaimana aksinya yang dilakukan seorang diri, seorang lone wolf juga mempelajari aksi teror termasuk soal bahan peledak yang dirakitnya dengan penjelajahan sendiri di internet.
Β 
"Tata caranya mirip fenomena lonewolf. Belajar dari internet, dan melakukan sendiri juga. Baik itu motif ekonomi atau ideologi, nyatanya menimbulkan ketakutan yang luas di masyarakat dan jadi atensi publik," imbuhnya.

2. Merakit Bom Jenis TATP

Foto: Grandyos Zafna
Leopard merakit bom jenis TATP (Triaceton Triperoxide) untuk meneror pengelola mal. Bahan peledak yang mudah didapat ini sangat berbahaya dan memilki daya ledak tinggi (high explosive).
Β 
"Kedua, adalah dari bahan peledak yang digunakan, baham peledak yang digunakan TATP. Ini adalah jenis mudah dibuat tapi sangat sensitif dan tidak stabil dan termasuk dalam kategori high explosive," ungkap Tito.
Β 
TATP memiliki kecepatan pembakaran (velocity of detonate) di atas 5.800 m/s. Meski berdaya ledak tinggi, namun dampak yang ditimbulkan akibat ledakan bom tersebut di Mal Alam Sutera tidak terlalu merusak karena kuantitasnya sedikit.
Β 
"TATP ini sangat berbahaya dan tidak stabil dan dapat dibuat dari komponen rumah tangga, salah satunya thinner cat. Tersangka mempelajari dari Google," lanjutnya.

3. Bom Jenis TATP Pertama di Indonesia

Foto: Grandyos Zafna
Bom TATP yang dirakit oleh tersangka Leopard merupakan kasus pertama kalinya di Indonesia. Di mana sebelumnya, kelompok teroris melakukan aksi pengeboman dengan menggunakan bahan peledak jenis black powder yang sebenarnya berdaya ledak rendah.
Β 
"TATP bom pertama kali terjadi di Indonesia. Ini yang menarik. Menggunakan chemical bomb namanya," kata Tito.
Β 
Di luar negeri, ada dua kasus bom TATP. Yakni yang dilakukan di Miami pada 2001 dan London pada 2005.
Β 
"Ada dua peristiwa besar yang menggunakan TATP di dunia terorisme dan antiterorisme pertama shoe bomber (pengebom sepatu) yang digunakan tersangka bernama Richard Reid, warga negara Inggris, yang berangkat dari Paris menuju Miami tahun 2001 dia kemudian mau membakar sepatunya yang berisi TATP dan digagalkan," katanya.
Β 
"Peristiwa kedua di London 7 Juli 2005. Hanya digunakan 4,5 kilogram TATP terhadap bom di underground dan bom di bis London. Korban 52 orang meninggal dunia dan 700 lebih terluka," tambahnya.
Β 
TATP memiliko sensitifitas yang sangat tinggi. Ia juga bisa meledak tanpa detonator.
Β 
"TATP juga sangat mudah meledak tanpa memakai detonator. Cukup dengan panas dan gesekan. Kemarin juga saat ditemukan di kulkas, sebagian serbuk TATP juga ada yang menimbulkan ledakan, tapi kecil," tutupnya.
Halaman 2 dari 4
(mei/nwk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads