Selain Prof Wenten, Ada Doktor Muhammad Nur dengan Air Purifier Plasmanya

Air Purifier untuk Korban Asap

Selain Prof Wenten, Ada Doktor Muhammad Nur dengan Air Purifier Plasmanya

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Kamis, 29 Okt 2015 13:26 WIB
Selain Prof Wenten, Ada Doktor Muhammad Nur dengan Air Purifier Plasmanya
Foto: Angling Adhitya P/detikcom
Semarang - Selain ahli ITB Prof I Gede Wenten, ada peneliti Universitas Diponegoro (Undip) Semarang yang membuat alat penyaring udara atau air purifier. Alat karya peneliti Undip, DR Muhamad Nur, direncanakan dipasang di sejumlah tempat terpapar asap di Kalimantan. Namanya Zetagreen. Apa beda dengan Fresh-On 2015 karya Prof Wenten?

Zetagreen berbentuk tabung setinggi 100 cm dengan diameter 22 cm, tidak makan tempatย  banyak. Satu alat bisa membersihkan udara di ruangan seluas 16 m2.ย  Cara penggunaannya cukup mudah, cukup aliri dengan listrik maka Zetagreen akan bekerja.

"Untuk ruangan sekitar 4 meter x 4 meter cukup 15 menit sudah bersih," kata penemu Zetagreen, Dr Muhammad Nur, DEA di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, kepada detikcom, Rabu (28/10/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Cara kerjanya yaitu udara kotor seperti asap akan disedot oleh kipas yang berada di bagian atas. Asap tersebut masuk dan akan mengalami proses filterisasi dan dekomposiasi atau pemecahan gas tertentu. Kandungan virus, bakteri, dan jamur dalam udara yang disedot akan masuk ke dalam reaktor plasma kemudian terjadi pembakaran oleh medan plasma mencapai 100.000 derajat celcius.

"Udara akan kembali ke partikel dasar. Partikel (virus, bakteri, dan lainnya) akan membeku dan mengendap di bawah," terang Nur.

"Ini beda dengat peralatan plasma lainnya. Kalau lainnya itu melepaskan plasma ke udara, kalau ini menyedot udara," imbuhnya.

Usai filterisasi, udara bersih dengan kandungan oksigen 20% akan keuar dari bagian bawah mesin sedangkan bakteri-bakteri atau virus yang tersaring mengendap di bawah. Selain itu Zetagreen juga menyemburkan ion cluster dan oksigen aktive untuk membunuh virus dan bakteri yang tidak sempat terhisap oleh alat.

"Itu jadi ukurannya kecil sekali, kalau mau membersihkan bisa tinggal ditiup saja," pungkasnya.

Teknologi tersebut sebenarnya sudah bukan hal baru bagi Nur karena para peneliti Undip dari center of plasma research sudah melakukan penelitian aplikasi teknologi plasma untuk menghilangkan asap sejak tahun 1999. Bahkan pada tahun 2004 Nur sudah menciptakan knalpot yang bisa menyaring gas buang kendaraan menggunakan plasma. Zetagreen sendiri juga merupakan pengembangan dari temuan knalpot tersebut.

"Masalahnya dengan knalpot itu kita tidak punya kontrol penuh ke perusahaan otomotif. Maka saya membuat turunannya, ini tidak bergerak dan bisa dikontrol," katanya.

Diketahui pemerintah akan memasang shelter lengkap dengan penjernih udara (air purifier) bagi para korban bencana kabut asap. Menristek Dikti M Nasir menyatakan bahwa alat tersebut bakal diproduksi oleh ITB dan Undip. Pembantu Rektor I Undip, Prof Dr Ir Zainuri mengatakan teknologi tersebut memang akan dimanfaatkan di Kalimantan namun belum dibahas terkait jumlahnya.

"Semetara ini belum rencana jumlah. Misal membangun tenda perlindungan maka satu tenda perlu dikasih," kata Zainuri.

"Ada dua alat yang didiskusikan, pesan awal 100 unit," imbuh Nur.

(alg/try)


Berita Terkait