Para Perempuan Indonesia yang Mencuri Perhatian di Milan Expo

Laporan dari Milan Expo

Para Perempuan Indonesia yang Mencuri Perhatian di Milan Expo

Ine Yordenaya - detikNews
Kamis, 29 Okt 2015 11:55 WIB
Para Perempuan Indonesia yang Mencuri Perhatian di Milan Expo
Foto: Ine Yordenaya
Milan - Tangkas dan ramah. Begitulah kesan yang ditangkap dari perempuan-perempuan Tanah Air yang sedang bertugas di Paviliun Indonesia, Milan World Expo 2015. Mari berkenalan.

Dara kelahiran Bogor tahun 1989 ini dengan ramah menjelaskan bagaimana angklung bisa mengeluarkan nada-nada yang indah. Sesekali bola matanya berputar. Ia mencari-cari susunan kata dalam bahasa Italia yang masih belum dikuasainya 100 persen. Di lain waktu, ia memaparkan informasi seputar ratusan topeng yang terpasang di dinding Paviliun Indonesia.

"Untuk percakapan dan tegur sapa biasa sudah bisa. Tapi masih belum lancar sekali," tutur Maria Yosepha yang sedang mengambil gelar master di Politecnico di Milano jurusan Product Service System Design, saat dijumpai detikcom di Milan, Rabu (28/10/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Eva, begitu perempuan berkacamata ini biasa disapa, adalah relawan di Paviliun Indonesia, Milan World Expo 2015. Tugasnya berganti-ganti. Kadang memberi penjelasan pada pengunjung mengenai budaya Indonesia, kadang menjadi penyambut tamu di pintu masuk. Namun Eva melakukannya dengan senang hati. "Kami semua relawan di sini semangat. Untuk Indonesia, rasanya senang bisa terlibat," ujarnya.
Eva (Foto: Ine Yordenaya)

Menurut Eva yang menghabiskan masa kuliah S-1nya di Institut Teknologi Bandung ini, banyak orang Italia yang belum mengenal Indonesia. Jangankan budayanya, letak geografis Indonesia saja tak banyak yang paham. Itulah salah satu alasan kenapa Eva ingin terlibat di Paviliun Indonesia yang beroperasi 1 Mei - 31 Oktober 2015 itu.

Hal yang sama dirasakan oleh Andrea Christina W. "Di kampus, saya satu-satunya orang Indonesia. Yang nggak tahu Indonesia tuh banyak banget," celotehnya sambil tertawa. Andrea yang lulus dari SMA di Jakarta meneruskan pendidikannya di Italia. Jurusan yang diambilnya tak biasa. Gastronomy Science dari Universita di Scienze Gastronomiche. Hari Rabu (28/10/2015), Andrea bertugas memberi edukasi seputar palm oil.

"Senang bisa berbagi informasi. Tapi beberapa kali ada dukanya juga. Ada yang ngomong seraya menunjuk-nunjuk, palm oil itu bunuh orang utan. Ya itu tantangan juga. Akhirnya saya jelaskan kondisi saat ini seperti apa," kisahnya sambil tersenyum.

Andrea (Foto: Ine Yordenaya)


Usai lulus kuliah nanti, Eva dan Andrea sama-sama tak mau langsung pulang ke Indonesia. Namun jangan buru-buru menghakimi mereka tak nasionalis. Dua perempuan ini ingin magang dulu di perusahaan di kawasan Eropa. "Agar wawasan luas dan pengalaman bertambah," ujar mereka.

Eva bercita-cita kembali ke Indonesia dan memberi sumbangsih pada negara. Saat ini dia sedang menyelesaikan thesis dengan tema Posyandu. Tingginya angka kematian ibu menurutnya bisa dikendalikan jika Posyandu dibenahi. Ditanya apakah ingin mengabdi di pemerintahan, Eva yang sepanjang pembicaraan terus tersenyum mengangguk dengan pasti. Ia percaya pembenahan sistem perlu dilakukan dari dalam.

Bagaimana dengan Andrea? Perempuan berambut panjang ini ingin kembali ke tanah air dan berwirausaha. Andrea bercita-cita membangun bisnis kuliner dengan bekal pendidikannya. "Masih banyak yang bisa dilakukan di Indonesia. Potensinya sangat besar," tuturnya menutup pembicaraan. (inn/mad)


Berita Terkait