Bagaimana caranya? Chef Made dan Ani Susilowati dari grup Artha Graha berbagi kisah pada detikcom. Untuk diketahui, Artha Graha yang menaungi Hotel Borobudur, tempat Chef Made & Ani Susilowati bekerja, adalah sponsor utama penyelenggaraan Paviliun Indonesia.
"Awalnya ngga mudah. Sempat berdarah-darah lah bisa dibilang," jelas Ani Susilowati yang sudah puluhan tahun berkecimpung di dunia food & beverages, Rabu (28/10/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dapur sudah didapat, masalah belum selesai. Chef Made berkisah, Milan Expo yang berlangsung 1 Mei - 31 Oktober 2015 punya aturan soal waktu bongkar muat selama event berlangsung. Loading hanya bisa dilakukan pada pukul 01.00 - 05.00 waktu setempat. Padahal Paviliun Indonesia baru beroperasi pada pukul 10.00 pagi.
Foto: Ine Yordenaya |
"Jadi kami punya dua tahap preparation. Yaitu production dan heating. H-1, semua makan diproduksi, didinginkan dan divacum. Tentunya semua dengan standar Eropa, termasuk soal hygine. Jadi walaupun H-1, makanan tetap bisa disajikan fresh," jelas Chef Made.
Pada hari H, semua makanan yang sudah didinginkan dan dikemas kedap udara dikirim dari dapur yang berjarak sekitar 15 menit perjalanan dengan mobil ke area Paviliun Indonesia. "Di paviliun kami punya oven microwave. Semua makanan direheat lalu disajikan," tuturnya.
Untuk urusan bahan baku, Paviliun Indonesia tak bisa membelinya hanya dari pemasok di Milan. Khusus untuk bumbu harus didatangkan langsung dari Belanda. "Di Belanda sudah banyak makanan Indonesia. Jadi macam-macam bumbu lebih mudah didapat. Pada masa-masa awal Paviliun Indonesia di bulan Mei 2015, kami sampai membeli bumbu sebanyak dua truk kontainer," ungkap Ani yang juga menyebutkan kalau Desa Restaurant yang berbasis di Belanda juga ikut berkontribusi dalam urusan kuliner di Paviliun Indonesia.
Foto: Ine Yordenaya |
Ada tiga konsep penyajian makanan di Paviliun Indonesia. Yaitu restoran, fast food, dan street food. Pemilihan konsep ini tak lain sebagai strategi menghadapi kendala luas area dan tipe pengunjung.
"Karena acara ini konsepnya festival. Visitornya sangat banyak sedangkan lahan limited. Apalagi restonya. Jadi kami menyiapkan konsep take away. Pengunjung bisa memakan hidangan kami sambil jalan," jelas Chef Made.
Hidangan restoran disajikan secara buffet. Dengan 20 euro, pengunjung bisa memilih sendiri menu makanan apa yang ingin disantap. Setiap minggunya, menu dengan tema selera nusantara ini diubah. Harapannya, pengunjung bisa berkali-kali kembali ke Paviliun Indonesia dan merasakan makanan yang berbeda-beda. Tidak membosankan.
Sedangkan konsep fast food adalah penyajian paket combo berisi nasi goreng, mie goreng, dan lauk seperti ayam dan tahu. Per harinya paket ini bisa terjual 1000 porsi dengan harga tiap porsinya 10 euro, termasuk teh dalam kemasan. "Setiap harinya kami masak 120 kg masing-masing nasi goreng dan mie goreng. Orang Italia sangat suka nasi goreng," kata Chef Made.
Yang laris manis adalah sajian street food yang mengandalkan sate bumbu kacang, lumpia, risol, dan pisang goreng. Dengan harga per porsinya 5 euro, 1500 tusuk sate sukses terjual setiap harinya. Beberapa pengunjung yang detikcom temui mengaku sangat terkesan dengan makanan Indonesia. Bahkan ada yang mengaku ingin datang ke Indonesia untuk mencicipi lebih banyak makanan yang lezat. Urusan harga juga dinilai tidak memberatkan. "Harganya terjangkau. Untuk 5 euro sudah bisa membuat kami kenyang," jelas Nicola, salah satu pengunjung asal Italia yang memesan satu porsi sate.
Tim inti yang terlibat dalam urusan makanan di Paviliun Indonesia ada 11 orang. Delapan chef, dua orang supporting dan satu orang bagian purchasing. Gelaran enam bulan dengan berbagai kendala bukanlah kerja ringan. Namun dengan kerjasama solid dan tekad mempromosikan kuliner tanah air, Chef Made dan tim berkomitmen memberikan yang terbaik. (inn/mad)











































Foto: Ine Yordenaya
Foto: Ine Yordenaya