Setidaknya itu pengakuan Nicola yang mengunjungi Paviliun Indonesia di gelaran Milan World Expo 2015 bersama orangtuanya, Rabu (28/10/2015). Nicola hanya tahu Indonesia adalah salah satu negara di Asia. Seperti apa Indonesia, pria berkewarganegaraan Italia berusia 20an tahun itu tak punya petunjuk sama sekali.
Nicola yang habis berkeliling paviliun negara lain tak sengaja melewati Paviliun Indonesia yang berjarak sekitar 2,5 km dari gerbang utama. Aroma sedap dari booth makanan berhasil membuatnya berhenti berjalan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nicola pun mengaku tertarik untuk tahu lebih detail soal Indonesia. Jika memang Indonesia punya ragam kuliner yang sedap, ia berniat memasukkan Indonesia ke dalam daftar negara yang ingin dikunjunginya.
![]() |
Satu porsi sate dengan harga 5 euro berisi dua tusuk sate dengan daging berukuran besar plus potongan lontong. "Harganya terjangkau. Untuk 5 euro sudah bisa membuat kami kenyang," jelasnya.
Jika Nicola datang tanpa rencana, tak demikian dengan Sylvia. Perempuan berdarah Italia itu memang niat datang ke Paviliun Indonesia untuk makan. "Saya suka sekali dengan daging pedas ini (rendang). Saya tidak tahu namanya, tapi yang jelas rasanya enak," ujarnya.
Sylvia datang ke area makan Paviliun Indonesia bersama tiga orang temannya. Kata Sylvia, ia berhasil membujuk teman-temannya untuk mencicipi hidangan Indonesia. Obrolan soal makanan pun berlanjut ke rencana perjalanan liburan mereka. "Saya jadi ingin ke Indonesia. Ke Bali," katanya sambil tertawa.
Foto: Ine Yordenaya |
Koperasi Pelestari Budaya Nusantara (KPBN) selaku penyelenggara Paviliun Indonesia bersama Artha Graha Network (AGN) sebagai senior partner membentuk tim kecil yang bertanggungjawab terhadap urusan makanan. Tim ini terdiri dari dua chef KPBN, empat dari AGN, dan ada juga dukungan dari Desa Restaurant di Belanda.
"Karena lokasi penyelenggaraannya di Eropa, kami membutuhkan bantuan dari sisi bumbu dan bahan. Pak Ayun dari Desa Restaurant di Belanda mau ikut membantu," tutur Chef Made perwakilan dari AGN saat ditemui detikcom di Milan Expo, Rabu (28/10/2015). Chef Made selama ini dikenal sebagai pengelola restoran di Hotel Borobodur, Jakarta. Untuk diketahui Desa Restaurant adalah rumah makan yang berlokasi di Amsterdam, Belanda, yang terkenal menyajikan makanan khas Indonesia.
Kuliner, sambung Chef Made, adalah salah satu cara Paviliun Indonesia berpromosi. Dengan variasi kuliner dan tentunya rasa yang tak mengecewakan, rasa keingintahuan pengunjung terhadap Indonesia diharapkan dapat tergugah. Lebih lagi, pengunjung tergerak untuk berwisata ke tanah air.
Sekitar 1.500 tusuk sate dengan harga 5 euro/porsi, menurut Chef Made berhasil dijual setiap harinya. Mayoritas, warga Italia yang membeli. Jika sedang ramai pengunjung, Chef Made dan tim nyaris menyajikan 2000 tusuk sate. Sate memang jadi primadona. Selain itu juga ada paket fast food yang berisi combo nasi goreng, mie goreng, dan lauk seperti ayam dan tahu. Per harinya paket ini bisa terjual 1000 porsi dengan harga tiap porsinya 10 euro.
"Karena acara ini konsepnya festival. Visitornya sangat banyak sedangkan lahan limited. Apalagi restonya. Jadi kami menyiapkan konsep take away. Pengunjung bisa memakan hidangan kami sambil jalan," jelas Chef Made.
Selain konsep fast food, tim kuliner juga menyiapkan konsep restoran dan street food. Restoran menyajikan makanan buffet dengan konsep selera nusantara seharga 20 euro dan street food seperti tusuk sate dan lumpia senilai 5 euro. (inn/mad)













































Foto: Ine Yordenaya