Perkembangan dunia internet yang makin mudah di akses, juga menjadi kekhawatiran akan penyebaran paham-paham radikal. Banyak anak-anak muda yang mempelajari secara mandiri lewat internet tentang Agama yang belum tentu informasi yang didapat itu benar. Informasi tersebut bisa saja disebarkan oleh kelompok-kelompok radikal sehingga yang didapat pemahaman yang salah.
Mantan anggota jaringan teroris Abdurahman Ayub, mengatakan bahwa banyak situs-situs yang mengatasnamakan Islam dan menyebarkan pemahaman yang salah. Situs-situs tersebut, menurutnya memang seharusnya di blokir. Bukan memblokir situs Islam, tetapi yang mengatasnamakan Islam ini yang berbahaya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nasir Abbas, yang juga mantan anggota jaringan teroris mengatakan bahwa jaringan teroris mengincar para pemuda untuk direkrut. Pemuda menjadi andalan kelompok teroris untuk menjalankan operasi mereka. Dan para pemuda inilah yang menjadi eksekutornya. Sehingga sangat penting untuk membangkitkan pemuda agar sadar dan melawan terorisme.
Sementara itu, korban aksi terorisme bom Marriott pertama, Tony Sumarno mengatakan bahwa perhatian terhadap korban-korban terorisme sangat kurang. Banyak yang menjadi janda karena suaminya meninggal akibat terorisme. Karena banyak yang tidak bisa bekerja, maka tidak bisa menyekolahkan anak-anaknya.
"Pada momen Sumpah Pemuda ini saya sampaikan jangan sampai kejadian terorisme terulang lagi. Jangan ada korban lagi," kata Tony.
Tony sekarang tergabung dalam Asosiasi Korban Bom Indonesia (Askobi). Anggota Askobi mencapai 600an orang. Terdiri dari korban-korban ledakan bom tindak terorisme seperti bom Marriott, bom Bali dan lainya. (imk/imk)











































