Eks Teroris: Jadi Teroris Sekarang Cukup Duduk Manis, Hasilnya Canggih

Eks Teroris: Jadi Teroris Sekarang Cukup Duduk Manis, Hasilnya Canggih

Edzan Raharjo - detikNews
Kamis, 29 Okt 2015 03:31 WIB
Eks Teroris: Jadi Teroris Sekarang Cukup Duduk Manis, Hasilnya Canggih
Foto: Edzan Raharjo/detikcom
Yogyakarta - Pemahaman Agama yang salah bisa memunculkan paham radikal dan aksi terorisme. Sehingga disinilah pentingnya memberikan pemahaman Agama yang benar dan tidak sepotong-potong.

Perkembangan dunia internet yang makin mudah di akses, juga menjadi kekhawatiran akan penyebaran paham-paham radikal. Banyak anak-anak muda yang mempelajari secara mandiri lewat internet tentang Agama yang belum tentu informasi yang didapat itu benar. Informasi tersebut bisa saja disebarkan oleh kelompok-kelompok radikal sehingga yang didapat pemahaman yang salah.

Mantan anggota jaringan teroris Abdurahman Ayub, mengatakan bahwa banyak situs-situs yang mengatasnamakan Islam dan menyebarkan pemahaman yang salah. Situs-situs tersebut, menurutnya memang seharusnya di blokir. Bukan memblokir situs Islam, tetapi yang mengatasnamakan Islam ini yang berbahaya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dulu rekrutmen itu butuh proses yang panjang. Sekarang bisa duduk manis dirumah dengan membuka web atau situs-situs yang ada. Dan hasilnya mungkin bisa lebih sadis dari kami, lebih canggih dari kami,"kata Abdurahman Ayub pada jumpa pers dialog 'Peran Generasi Muda Dalam Pencegahan Terorisme' di Jogja Ekspo Center, Yogyakarta, Rabu (28/10/2015).

Nasir Abbas, yang juga mantan anggota jaringan teroris mengatakan bahwa jaringan teroris mengincar para pemuda untuk direkrut. Pemuda menjadi andalan kelompok teroris untuk menjalankan operasi mereka. Dan para pemuda inilah yang menjadi eksekutornya. Sehingga sangat penting untuk membangkitkan pemuda agar sadar dan melawan terorisme.

Sementara itu, korban aksi terorisme bom Marriott pertama, Tony Sumarno mengatakan bahwa perhatian terhadap korban-korban terorisme sangat kurang. Banyak yang menjadi janda karena suaminya meninggal akibat terorisme. Karena banyak yang tidak bisa bekerja, maka tidak bisa menyekolahkan anak-anaknya.

"Pada momen Sumpah Pemuda ini saya sampaikan jangan sampai kejadian terorisme terulang lagi. Jangan ada korban lagi," kata Tony.

Tony sekarang tergabung dalam Asosiasi Korban Bom Indonesia (Askobi). Anggota Askobi mencapai 600an orang. Terdiri dari korban-korban ledakan bom tindak terorisme seperti bom Marriott, bom Bali dan lainya. (imk/imk)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads