"Tanggal 24 saya bersama keluarga saya di Fatayat, pelepasan periode organisasi 2010-2015 masuk 2015-2020. Saya diminta tim yang ada di organisasi tersebut," kata Arzetti mengawali kisahnya dalam konferensi pers didampingi suaminya di Restoran Pulau Dua, Senayan, Jakarta, Rabu (28/10/2015).
Arzetti pun terbang ke Malang. Setelah itu dia mulai janjian bertemu Dandim Sidoarjo bersama suaminya. "Saya janjian bertemu di titik tengah, karena waktu saya sedikit," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau di mall waktu mepet, mereka minta berfoto, pekerjaan yang harusnya cepat bisa terhambat waktunya, mengejar pesawat juga. Tempat mana, tempat yang paling dekat kita cari yang ada terasnya," ujarnya.
Arzetti membantah pertemuan dilakukan di dalam kamar seperti apa yang tengah diselidiki Denpom. Dia mengungkap pertemuan tidak seperti yang diasumsikan orang tentang perselingkuhan.
"Di situ berdiskusi proposal dan program. Beliau menggunakan baju dinas, ajudan, dan mobil dinas. Di depan ada teras, kita ngobrol. Kita bicara mengenai proposal, di Sidoarjo ada 18 kecamatan yang harus saya sentuh. CSR harusnya penyerapannya baik, tidak ada kamuflase," katanya.
"Tidak terjadi apa seperti yang dibicarakan," imbuhnya.
Arzetti akhirnya memutuskan terbuka kepada masyarakat karena keluarganya shock dan anak-anaknya terpukul melihat pemberitaan. Sampai kini pemeriksaan kasus penggerebekan Dandim 0816 Sidoarjo Letkol Kav Rizeki Indra Wijaya dengan Arzetti di kamar 18 Hotel Arjuna Malang masih terus berlangsung.
"Pemeriksaan Dandim masih dalam proses. Tunggu saja perkembangannya. Pemeriksaan masih di Makodam Brawijaya," ujar Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di Markas Kopassus TNI AD Cijantung, Jakarta Timur, Rabu (28/10/2015).
(van/try)











































