Kepala kantor SAR Semarang, Agus Haryono mengatakan pihaknya sudah berkomunikasi dengan BMKG Semarang terkait kabut tersebut sejak hari Jumat (23/10) lalu. Diketahui kabut tersebut hasil dari proses Adveksi yaitu pertemuan massa udara basah dan kering sehingga membentuk bidang batas di pulau Jawa dan menghasilkan kondisi cuaca seperti kabut.
"Sudah langsung ke BMKG dan memang bukan asap, tapi pertemuan udara basah dan kering," kata Agus kepada detikcom, Selasa (27/10/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
Terkait kabut berasal dari dugaan asap kebakaran, Agus menegaskan kecil sekali kemungkinan itu terjadi. Gunung Lawu yang terbakar dan menghadap Jawa Tengah asapnya tidak sampai ke Semarang.
"Asap kebakaran tidak sampai, Lawu jauh. Yang kebakar Lawu itu memang ada yang Jateng. Tapi arah asap tergantung angin, kebanyak ke Magetan," tegas Agus.
"Ini bukan asap, jadi tidak perlu masker," imbuhnya.
Diketahui fenomena asap di Kota Semarang mulai disadari warga sejak hari Jumat (23/10) lalu banyak yang menduga kabut merupakan dampak kebakaran di gunung Lawu atau Kalimantan. Namun menurut BMKG dari pantauan satelit Himawari, fenomena tersebut terjadi karena proses adveksi. (alg/try)












































