"Kita komunikasi dengan pihak terkait mulai dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) apakah sudah pada tahap yang dampaknya apa saja," ujar Kapolda setelah mendapat kejutan di hari ulang tahunnya ke-51 di Polda Metro Jaya, Jl Sudirman, Jakarta, Senin (26/10/2015).
Menurut Kapolda, dampak transportasi udara, jalan raya, kesehatan dan sebagainya akan dipikirkan. Menurutnya perlu langkah bersama untuk menanggulangi asap.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga infografis: Indonesia Hilang Ditelan Asap
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengatakan asap yang menyelimuti Ibu Kota belum dalam tingkatan bahaya. Ahok berharap embusan angin secara perlahan bisa mendorong kabut asap tipis itu.
"Mudah-mudahan angin juga bisa dorong. Ya kita juga berdoalah, sekarang juga sudah terlanjur begitu mau gimana kan," kata Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat hari ini.
Sebelumnya, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyebut asap tipis menutupi langit Jakarta sejak Jumat (23/10) adalah efek dari kebakaran hutan dan lahan. Sutopo mengatakan, partikel halus dari asap tipis ini melayang di atmosfer pada ketinggian sekitar sekitar 1.000 sampai 3.000 meter. Pada pagi hari asap kelihatan lebih tebal karena bercampur dengan kabut atau uap air.
Meski demikian, menurutnya kualitas udara di Jakarta saat ini masih normal hingga sedang. "Justru asap kendaraan bermotor yang lebih berbahaya bagi kesehatan," kata Sutopo dalam keterangan tertulis, Minggu (25/10). Sedang BMKG menyebut kabut di Jakarta tidak terkait dengan kebakaran lahan dan hutan, melainkan karena polusi. Angin cenderung mengarah ke utara dan bukan ke selatan (Jawa). Sedang kebakaran Gunung Lawu di Jatim menurut BMKG maksimal hanya akan mencapai Jateng.
(nwy/nrl)











































