Orang Rimba, begitulah julukan masyarakat adat yang hidup di dalam kawasan hutan. Mereka ini merupakan warga pedalaman yang hidup di kawasan taman nasional di Jambi.
Pola hidup mereka sangat tradisional, jauh dari kebisingan kota. Mereka hidup rukun sejak ratusan tahun silam di dalam hutan. Kini hutan yang menjadi sumber kehidupan mereka porak poranda di dalam kawasan taman nasional yang dijarah warga kota.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kebakaran hebat telah menghancurkan sendi-sendi kehidupan. Berburu tak bisa lagi. Asap mengepung kini membuat anak-anak mereka jatuh sakit.
"Anak-anak kami sekarang sakit. Asap membuat anak-anak kami batuk, badannya panas," kata ketua kelompok suku Rimba, Bejampung (45) dalam perbincangan dengan detikcom, Minggu (25/10/2015).
Belum lama ini, ratusan jiwa Orang Rimba eksodus dari dalam kawasan hutan taman nasional. Mereka berpencar menyelamatkan diri dari kobaran api dan kepungan asap. Berjalan kaki dari Jambi ke Sumbar sampai ke Riau selama satu bulan.
"Kami keliling tinggalkan kampung, agar kami tak mati di dalam hutan. Baru seminggu ini kami pulang kampung lagi, hutan masih terbakar asap tebal. Anak-anak kami langsung jatuh sakit," kata Bejampung.
Tak ada bantuan masker atau pengobatan gratis di dalam kawasan hutan. Sepertinya pemerintah luput memperhatikan nasib suku pedalaman yang juga sesak nafas diterjang asap pekat. Pemerintah masih fokus pemberian bantuan masker, posko kesehatan di kawasan kota.
"Tak ado anak kami berobat. Tak ado dokter mau datang ke dalam hutan. tak ada perhatian bapak-bakap pemerintah untuk anak-anak kami," kata Bejampung. (cha/mad)











































