Perjalanan Berhiaskan Asap

Ekspedisi Pantai Ora (11)

Perjalanan Berhiaskan Asap

Zulkifl, M. Aji Surya - detikNews
Sabtu, 24 Okt 2015 14:58 WIB
Perjalanan Berhiaskan Asap
Foto: M Aji Surya
Ambon - "Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan, sayang engkau tak duduk di sampingku kawan. Banyak cerita uang mestinya kau saksikan, di tanah kering bebatuan. Tubuhku terguncang, dihempas batu jalanan, hati tergetar menatap kering rerumputan." Bait-bait lagu Ebiet G. Ade itu tiba-tiba menjadi lagu favorit tim oraXpedition. Sepanjang perjalanan, beberapa orang menyanyi di tengah keheningan.

Maklumlah, bencana kabut asap yang menyelimuti Sumatra dan Papua juga melanda Maluku sejak Oktober 2015. Untunglah tim dapat mendarat di Ambon dan melanjutkan perjalanan menuju Ora. Meski demikian, hiasan asap tipis di mana-mana terasa sangat mengganggu. Menyebalkan.

Indonesia memang tengah dirundung ujian berat, baik karena alam maupun akibat ulah beberapa pihak yang lalai dan hanya mementingkan dirinya sendiri. Di tengah kekeringan yang berkepanjangan akibat El Nino ini, Pulau Seram di mana Pantai Ora berada, menghadapi dampak langsung yaitu kebakaran hutan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam perjalanan tim oraXpedition dari Amahai menuju Saleman yang melewati wilayah Gunung Binaiya misalnya, terlihat beberapa wilayah hutan yang hangus karena terbakar. Rumput yang mengering berubah menjadi hitam, dan pohon-pohon yang sudah meranggas semakin kering kerontang.

Rusli, sopir yang membawa tim, mengaku dirinya tidak tahu persis penyebab kebakaran hutan. Bisa dari puntung rokok atau dari api kecil yang dipatik seseorang lalu menjadi semakin besar. "Kabarnya ada yang sengaja membakar," ujar penduduk yang tidak bersedia disebut identitasnya.

An Shoukern, diplomat asal Kamboja mencoba merefleksikan apa yang disaksikannya dalam perjalanan tersebut. Menurutnya, ini sebuah fenomena alam. "Jelas ini bukti bahwa climate change (perubahan iklim) itu bukan sekadar wacana, tapi riil. Bahkan berdampak langsung pada food security (ketahanan pangan). Mudah-mudahan pemerintah dan masyarakat Indonesia dapat menangani permasalahan ini sesegera mungkin," ujarnya dengan muka sedih.

Bencana kekeringan dan kabut asap ini jelas telah mengurangi keindahan perjalanan dan kemolekan pantai Ora secara utuh. Rupanya, modal lingkungan alam tidak bisa dianggap "sesuatu", masih butuh kesadaran bersama untuk merawat dan mempertahankannya.

Sangat menyedihkan. Selama tinggal di Pantai Ora, ditemukan kenyataan bahwa asap telah menutupi jarak pandang, sehingga penampilan gunung-gunung yang mengelilingi pantai tidak maksimal. Pantai menjadi kelabu. Udara pun tidak terlalu segar.

Setiap hari, ada saja diplomat internasional yang ikut dalam tim ini berharap bahwa asap akan pergi seperti halnya kabut. Tapi ternyata asap bukan kabut. Kabut pergi bersama sinar matahari yang semakin terang, sedangkan asap tetap tinggal entah sampai kapan.

(nrl/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads