20 Negara Kawasan Samudera Hindia Sepakati Pengadopsian 3 Dokumen

IORA 2015 di Padang

20 Negara Kawasan Samudera Hindia Sepakati Pengadopsian 3 Dokumen

Novi Christiastuti - detikNews
Sabtu, 24 Okt 2015 07:07 WIB
20 Negara Kawasan Samudera Hindia Sepakati Pengadopsian 3 Dokumen
Foto: Novi Christiastuti/detikcom
Padang - Perhelatan Indian Ocean Rim Association (IORA) di Padang, Sumatera diakhiri dengan pengadopsian tiga dokumen penting oleh negara-negara yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Salah satunya mengenai penguatan kerja sama maritim di antara mereka.

"Kami sepakat mengadopsi tiga dokumen. Pertama adalah Padang Communique, kemudian kedua ialah Deklarasi Kerjasama Maritim IORA, ketiga adalah Keputusan Pendirian Komisi Adhoc untuk IORA Concord," ujar Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi dalam konferensi pers usai penutupan IORA 2015 di Mercure Hotel, Padang, Jumat (23/10/2015).

Menlu Retno bertindak sebagai pemimpin dalam pertemuan setingkat menteri atau Council of Ministers Meeting yang diikuti 20 negara anggota IORA dan tujuh mitra dialog, termasuk Amerika Serikat. Ini bagian dari keketuaan Indonesia dalam IORA selama dua tahun ke depan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Padang Communique yang diadopsi dalam forum ini berisi kesepakatan negara IORA pada sejumlah isu dan gagasan yang menjadi pembahasan. Salah satunya soal diterimanya Somalia sebagai anggota IORA ke-21. Forum sepakat bahwa penandatangan pengesahan keanggotaan Somalia akan dilakukan pada pertemuan selanjutnya, karena tidak ada perwakilan negara ini dalam forum di Padang.

Isu soal pemberdayaan perempuan secara ekonomi juga masuk dalam poin Padang Communique. Negara-negara IORA bertekad menjadikan isu ini sebagai topik prioritas dalam pertemuan-pertemuan IORA selanjutnya.

"Kami juga menegaskan kembali komitmen pada pentingnya pemberdayaan perempuan secara ekonomi sebagai pemicu efektif bagi pertumbuhan dan pembangunan ekonomi," demikian bunyi salah satu poin Padang Communique.

Sedangkan, deklarasi soal penguatan kerja sama maritim menyerukan peningkatan investasi dan pembangunan infrastruktur maritim yang tahan uji dan berkelanjutan di antara negara-negara IORA. Ini dimaksudkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang bisa memperkecil kesenjangan di antara negara-negara kawasan Samudera Hindia.

"Memperkuat kerjasama kawasan yang bersesuaian dengan prinsip-prinsip hukum internasional yang diakui secara universal, dalam menghadapi tantangan maritim seperti IUU (Illegal, Unreported, Unregulated) fishing, pembajakan, penyelundupan manusia, polusi kelautan, penyelundupan satwa liar, bencana alam dan perubahan iklim," demikian salah satu bunyi poin dalam deklarasi tersebut.

Kemudian dalam keputusan pendirian Komisi Adhoc untuk IORA Concord, pertemuan setingkat menteri menugaskan kepada Committee of Senior Officials (CSO) dari negara-negara anggota IORA untuk membahas lebih lanjut soal pembentukan ini dan ketentuannya. CSO nantinya akan melaporkan perkembangan kerja Komisi Adhoc kepada pertemuan setingkat menteri berikutnya di tahun 2016.

IORA Concord akan menjadi semacam rujukan bagi kerjasama negara kawasan Samudera Hindia. IORA Concord dicetuskan Indonesia dalam pertemuan pejabat senior IORA di Mauritius, Mei lalu. IORA Concord masih dalam perumusan dan diharapkan bisa disahkan pada IORA Summit yang rencananya akan digelar Maret 2017 mendatang di Indonesia, bertepatan dengan peringatan 20 tahun berdirinya IORA.

Menlu Retno juga menyebutkan pemberian kontribusi secara sukerela untuk IORA Special Fund sebesar US$ 250 ribu atau setara Rp 3,4 miliar dari Indonesia. IORA Special Fund merupakan mekanisme finansial untuk mendukung dan menerapkan pendanaan proyek dan program-program yang diadopsi IORA. (nvc/spt)


Berita Terkait